PANDANGAN LUTHER TENTANG IMAMAT AM ORANG PERCAYA

27 12 2011
  1. A.     Sejarah hidup Martin Luther[1]

Marthin Luther lahir pada tanggal 10 November 1483 di Eisleben, Saxonia, dan wafat pada tanggal 18 Februari 1546. Ia berasal dari keluarga petani, dan mengaku,”Ich bin ein Bauern Sohn” (Saya anak petani). Ayahnya bernama Hans Luther, dan ibunya Margaret Ziegler.

Pada musim panas 1484, keluarga Luder pindah ke Mansfeld, Magdeburg dan Einsenach. Pada tahun 1501, Luther belajar di Universitas Erfurt dan meraih gelar MA (Magister Artium) pada tahun 1505 melalui Trivum dan Quadrivium. Kemudian sesuai dengan keinginan ayahnya, ia melanjutkan studi dengan memasuki fakultas hukum. Tetapi ketika ia baru memulainya, ia mengalami kejadian yang amat menentukan masa depannya, yaitu ketika ia berjalan di tempat terbuka dalam cuaca yang buruk, ia hampir-hampir tersambar petir; takut akan mati, dan berjanji kepada Santa Anna, bahwa ia akan masuk ke biara.

Dan pada tanggal 17 Juli 1505, ia masuk ke ordo rahib St.Agustinus. Dan pada tanggal 3 April 1507, ia di tahbiskan menjadi imam. Kemudian pada tahun 1512, ia meraih gelar Doktor Teologi.

Pada tahun 1524 ia melepaska jubah kebiaraanya, dan pada tahun 1525 ia menikah dengan Katherina von Bora, yang merupakan bekas biarawati. Dari Katherina, ia mempunyai 6 orang anak yang bernama Hans, Elizabeth,Magdalena, Martin, Paul, dan Margareth.

Kemudian pada 18 Februari 1546, Martin Luther wafat di Eisleben, Kekaisaran Suci Romawi.

 

  1. B.     Pengertian

Imamat am orang percaya merupakan pandangan Luther yang menandaskan bahwa Paus dan rohaniwan tidak boleh berkuasa atas kaum awam (warga gereja), karena setiap rang Kristen adalah imam dan ikut bertanggung jawab dari dalam kehidupan gereja.[2]

 

  1. C.     Latar-belakang

Dalam Teologi Sistematis, gereja dibedakan dalam beberapa segi[3]. Segi pertama dapat disebut segi objektif, yaitu gereja dilihat sebagai tempat di mana manusia bertemu dengan keselamatan yang diberikan Allah kepadanya dalam Yesus Kristus. Gereja adalah suatu lembaga atau institusi yang mengantar keselamatan kepada manusia. Segi kedua dapat disebut segi subyektif. Gereja adalah persekutuan orang-orang percaya yang ingin beribadah kepada Allah. Gereja tidak hanya tempat di mana manusia mendengar dan menerima, tetapi juga tempat di mana manusia menjawab dan memberi. Demikian gereja adalah ungkapan iman orang-orang percaya, suatu persekutuan yang dibentuk manusia untuk bersama-sama bertumbuh dalam iman dan untuk menyebarkan Injil Yesus Kristus di mana-mana, supaya bangsa Allah di dunia ini semakin besar. Dan segi yang ketiga yaitu segi apostoler atau segi ekstravert. Gereja adalah persekutuan orang percaya yang diutus untuk mengantar keselamatan Allah kepada seluruh dunia.

Menurut Jan S. Aritonang, bahwa penyebab mendasar timbulnya reformasi adalah perbedaan antara ajaran atau teologi dan praktek gereja (GKR) dengan ajaran Alkitab. Tetapi peristiwa pemicu reformasi itu adalah penjualan surat penghapusan siksa (aflat) di Jerman oleh Johann Tetzel.[4] Sekarang muncul pertanyaan bagaimana ajaran dan praktek gereja – khususnya Gereja Katolik Roma – sebelum munculnya reformasi sehingga muncullah pemikiran untuk membaharuinya?

Hal ini tidak terlepas dari pemahaman tentang gereja itu sendiri. Pada abad pertengahan (590-1500) gereja dipahami sebagai suatu lembaga.[5] Maksudnya ialah bahwa gereja yang merupakan persekutuan semua orang percaya tidak mendapat penekanan, sebab semua perhatian teologis diberikan kepada segi institusional. Gereja dipandang sebagai lembaga di mana para pejabat atau kaum klerus membagikan keselamatan kepada kaum awam, bahkan kata gereja hampir sinonim dengan hierarki, korps pejabat-pejabat gerejawi. Lebih lanjut dijelaskan bahwa gereja, yaitu kaum klerus, menentukan apa yang harus dipercaya dan apa yang harus dibuat untuk menerima keselamatan. Lalu sehubungan dengan pemahaman tentang gereja tersebut, maka apa yang yang terjadi di dalam tubuh gereja itu sendiri?

Sehubungan dengan pemahaman tentang gereja tersebut di atas, maka yang terjadi dalam tubuh gereja ialah adanya pemahaman bahwa Uskup Roma atau Paus mempunyai kedudukan khusus di tengah-tengah semua Uskup Gereja Katolik yang di dalam dirinya melambangkan keesaan gereja. Sehingga pada abad pertengahan Paus menjadi pemimpin Gereja Katolik di Eropa Barat.

Menurut Chr. De Jonge dan Aritonang, bahwa nama Paus (bahasa Latin Papa, bahasa Inggris Pope) berasal dari bahasa Yunani yaitu Papas. Yang berarti bapak.[6]

Lebih lanjut dijelaskan bahwa gelar ini diberikan di Timur kepada uskup-uskup, kepala-kepala biara dan juga kepada imam-imam biasa. Di Barat papa menjadi gelar untuk uskup-uskup, sejak ± 450 hanya Uskup Roma, sehingga Uskup inilah sekarang disebut Paus. Untuk mengerti mengapa kepausan, yaitu keuskupan Roma dapat menjadi pusat Gereja Barat, perlu diketahui bahwa uskup ini dianggap pengganti Rasul Petrus, yang ditunjuki oleh Kristus sebagai yang pertama di antara para Rasul (Matius 16:18-19; Yohanes 21:15-17).

Dan salah seorang Bapak Gereja yang mendukung kedudukan Paus ini ialah Augustinus.[7] Di mana ia mendukung para Paus sebagai penerus Rasul Petrus dan simbol yang selalu kelihatan dari kesatuan tubuh Kristus dan para pemimpin yang ditunjuk-Nya.

Dan untuk mendukung kedudukan tertinggi  kepausan, maka Augustinus mengumpulkan rekan sezamannya, yakni Hieronymus, Ambrosius, dan Optatus untuk melakukan penafsiran pada teks-teks Injil khususnya pada Injil Matius 16:18. Selain daripada itu, ada beberapa alasan  mengapa pilihan untuk peranan ini harus ada pada Uskup Roma, yaitu.[8]

  1. Ada tradisi yang menghubungkan Roma dengan Rasul Petrus  dan peranannya dalam memulai berdirinya gereja, yaitu pasal-pasal awal kitab Kisah Para Rasul yang memperlihatkan Petrus sebagai seorang pemimpin yang hanya dapat ditandingi Paulus.
  2. Roma adalah ibu kota kekaisaran yang hampir sepanjang masa pembentukan gerakan Kristen, sehingga kota Roma diberikan peranan istimewa.
  3. Sejumlah uskup Roma, yaitu dari Clemens I sampai dengan Leo I (440-461) memperoleh penghargaan dari semua gereja lain karena mereka sering memberikan pandangan yang berbobot dalam menyelesaikan perselisihan-perselisihan teologis.

 

Dan sehubungan dengan pengukuhan kekuasaan Paus tersebut. Maka para Paus, mulai dari Damascus (366-384) sampai dengan Leo Agung, seratus tahun kemudia, telah merumuskan dasar teologis untuk mendukung tuntutan mereka atas pimpinan gereja.[9] Hasil dari perumusan teologi  itu maka muncullah perbedaan wewenang antara uskup-uskup dengan Paus. Di mana uskup hanya berkuasa di wilayah keuskupan mereka masing-masing. Sementara Paus berkuasa di seluruh Gereja dan mempunyai Plenitudo Potestatis (kuasa yang penuh) serta magisterium (wewenang untuk mengajar atau menentukan ajaran. Dalam perkembangan selanjutnya pada waktu sekitar abad ke-7 sampai dengan abad ke-11, sejumlah Paus mengklaim bahwa kekuasaan mereka lebih tinggi dari kekuasaan kaisar atau raja-raja mana pun di dunia ini. Mereka membandingkan diri dengan matahari, sedangkan raja-raja dibandingkan dengan bulan yang mendapat cahayanya dari pantulan cahaya matahari.

Selanjutnya disusunlah hierarki jabatan di dalam tubuh gereja; Paus merupakan pejabat tertinggi, lalu di bawahnya menyusul serangkaian jabatan imam (klerus; kleros), yaitu jabatan yang diperoleh melalui tahbisan (sakramen pentahbisan imam). Dan berdasarkan dengan itu mereka diperkenankan memberitakan firman dan melayankan sakramen. Sementara itu umat gereja pada umumnya disebut kaum awam (laikos); mereka ini tidak berhak membaca (apalagi memberitakan) firman dan melayankan sakramen dan berkewajiban melakukan sebanyak mungkin amal bakti; termasuk (bahkan terutama) memberi derma ataupun menyerahkan harta benda mereka sebanyak-banyaknya kepada gereja.[10]

 

  1. D.    Pandangan Martin Luther tentang Imamat Am Orang Percaya

Seperti yang telah diuraikan sebelumnya, bahwa yang menjadi sasaran reformasi ialah ajaran gereja (dalam hal ini GKR[11]). Maka Luther juga mensasarankan kritiknya terhadap ajaran gereja. Sehingga Luther juga tidak banyak mensasarankan atau berbicara tentang pembaharuan jabatan berbeda dengan Calvin. Karena Calvin memahami gereja sebagai persekutuan orang-orang yang telah diselamatkan berkat kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus, yang telah dibenarkan kendati tetap merupakan manusia berdosa, yang kesemuanya disambut dan diterima manusia melalui iman.[12] Sejalan dengan pemahaman tentang Alkitab yang berpusat pada (injil) Yesus Kristus, maka ditegaskan bahwa gereja adalah tempat yang bisa ditemukan di mana saja, asalkan di sana firman atau Injil yang murni diberitakan dan sakramen yang murni dilayankan. Sehubungan dengan itu Calvin mendaskan bahwa Allah memanggil dan menyediakan orang-orang yang ditugaskan membritakan firman Allah dan melayankan sakramen, serta gembala-gembala yang menuntun dan membina warga gereja.[13] Dengan demikian maka menurut Calvin gereja mempunyai peranan kunci dalam hubungan antara manusia dengan Allah sebagai sarana atau saluran pemberitaan Firman dan pelayanan sakramen. Sehingga ia mengharuskan gereja untuk memiliki seperangkat pejabat yang ditunjuk untuk memberitakan firman (dalam wujud kata-kata maupun tanda) dan membina orang percaya. Dan dengan argumen itu Calvin, di dalam gereja ada empat jabatan, yaitu gembala atau pendeta (pastor, pengajar (doctor), penatua (Presbyter) dan syamas atau diaken (diakon). Namun yang perlu di catat bahwa Calvin juga mempunyai pendapat yang sama dengan Luther, di mana ia juga tidak setuju jika imamat khusus sebagai perantara untuk menyalurkan keselamatan itu kepada manusia.

Namun berdasarkan pergumulan Luther di dalam mendalami Alkitab dan ajaran gereja, ia sadar bahwa pemahaman tentang jabatan yang diberlakukan di dalam GKR pada waktu itu secara teologis menyimpang dari amanat Alkitab. Sehingga ketika Luther berbicara tentang jabatan, ia segara mengaitkannya dengan pusat atau inti amanat Alkitab dan dengan hakikat gereja sebagai persekutuan orang-orang beriman, yang telah diselamatkan Kristus dan yang hidup disekitar firman dan sakramen. Namun perlu diketahui bahwa jabatan gereja tidak ditolak oleh Luther tetapi coraknya di ubah. Karena baginya jabatan adalah pada dasarnya untuk pelayanan firman. Lebih jauh lagi Luther menghapuskan batas antara kaum klerus dan kaum awam.

Berdasarkan penelitian atas Alkitab, khusunya pada I Petrus 2:9 yang berbunyi Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: maka Luther melihat bahwa secara hakiki tidak ada pemisahan antara kaum klerus dengan kaum awam ataupun hierarki atau penjenjangan di antara jabatan-jabatan gerejawi. Sehingga menurut Luther, bahwa jabatan imam diakhiri oleh Tuhan Yesus Kristus, Imam Besar Agung itu. [14] Dengan kematian dan kebanghkitan Kristus, manusia tidak lagi membutuhkan manusia lain untuk berperan sebagai Imam, yaitu perantara mereka dengan Tuhan, baik itu memanjatkan doa (permohonan, pengakuan dosa dan sebagainya) maupun untuk persembahan korban. Yesus Kristus telah menjadi Imam sekaligus sebagi korban yang paling sempurna, sekali untuk selamanya. Sehingga Luther menyimpulkan, oleh karena itu, kita semua adalah Imam sebab kita adalah orang Kristen.[15] Dengan ini ia bertujuan untuk menjelaskan bahwa semua orang Kristen dipanggil untuk mengajar maupun bersaksi tentang kebenaran tentang kabar baik. Namun, ia tidak bermaksud mengatakan bahwa seorang pelayan yang ditahbiskan itu tidak berguna, karena itu ia menambahkan tetapi imam-imam itu, sebagaimana kita menyebutnya, merupakan pelayan-pelayan yang dipilih dari antara kita, yang melakukan segala sesuatu atas nama kita.

Selain daripada itu, ajaran Luther tentang pembenaran (yustifikasi) hanya oleh iman memimpin kepada pandangannya tentang imamat am orang-orang percaya. Karena bagi Luther, Gereja-seperti yang nyata dari kuliah-kuliahnya tentang kitab Mazmur-adalah gereja yang tersebunyi (ecclesia abscondita).[16] Gereja terdiri dari perkumpulan orang-orang yang dipilih. Ia adalah tubuh mistik dari Kristus.

Dengan demikian, Imam memperoleh pengertian baru; itu bukan lagi jabatan khusus untuk orang-orang tertentu, melainkan fungsi pelayanan, meneladani Kristus, Sang Diakonos Agung itu. Tentu perlu ada pembagian tugas dan jabatan serta pembedaan bidang pelayanan, tetapi semua itu pada hakikatnya adalah sedeerajat. Antara para pejabat dan warga gereja pun tidak ada perbedaan derajat; yang ada hanyalah pengkhususan fungsi pelayanan.

Dan sesuai dengan inti ajaran Luther bahwa firman dan sakramen harus merupakan pusat kehidupan gereja atau umat Kristen, maka menurut Luther jabatan terpenting (tetapi bukan tertinggi, atau memiliki dignitas rohani yang lebih tinggi) dan yang memerlukan tahbisan khusus adalah jabatan pemberita Firman Tuhan dan pelayan Sakramen, dalam hal ini adalah pendeta (pastor, gembala; poimen), yang dipandangnya sama dengan jabatan Uskup di dalam GKR.[17] Pendeta dalam ibadah memberitakan pengampunan dosa, bukan karena mereka mempunyai kekuatan Rohani yang khusus, melainkan karena Allah mengamanatkan hal itu melalui mereka. Sementara jabatan-jabatan yang lain bagi Luther ia sebut adiafora (bisa ada, bisa tidak) seperti doctor, diaken, procantor, dan sebagainya.[18]

  1. Simpulan

Dari uraian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa pandangan Luther tentang imamat am orang percaya muncul karena dilatar-belakangi oleh tradisi Gereja Katolik Roma. Di mana GKR mendakan pembedaan antara kaum rohaniwan dengan kaum awam, seperti yang telah penulis uraikan dari uraian sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Abineno, J.L.Ch., Garis-Garis Besar Hukum Gereja, Jakarta: BPK-GM; 2006.

Aritonang, Jan S.,  Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK-GM;2000.

Berkhof, H., Sejarah Gereja, Jakarta:BPK-GM; 1996.

Jonge Chr. De dan Jan S. Aritonang, Apa dan Bagaimana Gereja?, Jakarta: BPK-GM; 2003.

Urban, Linwood, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, Jakarta: BPK-GM; 2006.


[1] Bnd. H. Berkhof, Sejarah Gereja, (Jakarta:BPK-GM; 1996), hlm. 120-123.

[2] Bnd. Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja ,(Jakarta: BPK-GM;2000), hlm.. 31.

[3] Bnd. Chr. De Jonge dan Jan S. Aritonang, Apa dan Bagaimana Gereja, (Jakarta: BPK-GM; 2003), hlm. 5.

[4] Ibid, hlm. 29.

[5] Bnd.Chr. de Jonge dan Jan S. Aritonang, Op.Cit., hlm. 23

[6] Ibid.

[7] Bnd. Linwood Urban, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen,(Jakarta: BPK-GM; 2006), hlm. 432.

[8] Ibid, hlm. 433.

[9] Bnd.Chr. de Jonge dan Jan S. Aritonang, Op.Cit., hlm. 25.

[10] Bnd. Jan S. Aritonang, Op. Cit., hlm. 46-47.

[11] GKR adalah singkatan dari nama Gereja Katolik Roma.

[12] Jan S. Aritonang, Op. Cit., hlm. 66.

[13] Ibid, hlm. 67.

[14] Ibid.

[15] Linwood Urban, Op. Cit., hlm. 441.

[16] Bnd. J.L.Ch. Abineno, Garis-Garis Besar Hukum Gereja, (Jakarta:BPK-GM;2006),hlm. 59.

[17] Jan S. Aritonang, Op. Cit., hlm. 47.

[18] Ibid. hlm.48.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: