Komunitas Sadrach Dan Akar Kontekstualnya

27 12 2011

Sadrach adalah nama dari seorang pribumi berstrata  sosial bawah di Jawa Tengah, dari desa Karangjasa di bagian Selatan Bagelen. Nama lengkapnya ialah Sadrach Surapranata. Nama Sadrach merupakan sebuah nama baru yang ia pakai setelah ia dibaptis oleh Rev. Ader, pendeta dari Indische Kerk, pada tanggal 14 April 1867. Nama Sadrach sebelumnya ialah Radin Abis. Sebelum ia menjadi seorang Kristen, ia adalah seorang anak muda yang belajar tentang Al-Qura’an. Dan setelah ia lulus dari sana, maka ia menjadi pemuda Jawa seutuhnya, ia tidak langsung melanjutkan pendidikannya di Pesantren, tetapi lebih dahulu ia belajar “ngelmu” di bawah bimbingan guru ngelmu Jawa bernama Sis Kanoman di Semarang. Dan setelah ia berumur 17 tahun, ia pergi ke Jawa Timur, dan di sana ia belajar di berbagai Pesantren. Sesudah ia lulus dari pesantren ia kembali ke Semarang. Dan tinggal di Kauman. Namun, sekembalinya ke sana ia bertemu dengan dengan Sis Kanoman yang tidak lagi berstatus sebagai guru ngelmu Jawa, karena sudah bertobat menjadi seorang kristen akibat kekalahannya sewaktu melakukan perdebatan umum dengan penginjil Jawa bernama Tulung Wulung. Dari pertemuan Radin dengan mantan guru ngelmunya tersebutlah Radin pergi ke Batavia pada tahun 1866 bersama dengan Tunggul wulung untuk bertemu dengan F.L. Anthing[1]. Dan di sinilah awal mulanya Radin menjadi seorang Kristen dengan nama Sadrach.

Setelah semuanya ini, maka Sadrach memulai pekerjaannya. Dan sebagai hasil kerjanya yang pertama ia berhasil menobatkan Kiai Ibrahim melalui perdebatan umum. Setelah itu, Ibrahim menjadi teman setia Sadrach dalam pekerjaan PI. Orang kedua adalah Kiai Kasanmetaram dan dan diikuti sejumlah orang lainnya seperti Kiai Karyadikrama dan Kiai Wiradikrama, kedua bersaudara pencari kebenaran dan juga mistik. Kiai-kiai ini diajarkan sendiri oleh Sadrach. Dan dari hal inilah Sadrach perlahan-lahan menjadi guru ngelmu baru yang berpengaruh dan dihormati di Karangjasa dan sekitarnya. Sehingga dalam setahun jumlah yang bertobat mendekati seratus orang. Sehingga pada tahun 1871 gedung gereja pertama didirikan di Karangjasa. Sehingga karangjasa menjadi tempat berkumpulnya orang-orang Kristen.

Sadrach adalah pelopor penginjilan di Jawa yang menjadi pemimpin kharismatis orang-orang Jawa di seluruh Jawa Tengah. Namun, bagi pemerintah lokal Kolonial Belanda menaganggapnya sebagai seorang pemberontak yang mengancam kestabilan dan ketentraman dan ketertiban umum. Sedangkan bagi misionaris Belanda yang tidak mengetahui latar belakang pemikiran Sadrach pada umumnya menganggap kekuasaan Sadrach dan kepemimpinannya sudah melampaui batas-batas kekristenan yang benar dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Calvinisme. Mereka menuduhnya sebagai pemimpin orang Jawa sesat karena ia menyatakan dirinya ratu adil dan menganggap ajarannya sebagai campuran antara pemikiran Kristen dan bukan Kristen. Jemaatnya dianggap sebagai orang-orang Kristen palsu atau jemaat Islam yang berpakain Kristen. Sehingga F. Lion Cachet mengganti Karangjasa, yang berarti “batu karang yang teguh berdiri” menjadi Karangdosa, yang berarti “batu karang dosa”. Mengapa hal ini bisa terjadi? Perlu diketahui bahwa Jemaat Sadrach merupakan jemaat yang unik, sebab jemaat ini muncul bukan dari pelayanan misi  Indische Kerk atau dari salah satu organisasi PI yang bertugas di Jawa Tengah pada paruhan abad ke XIX, melainkan sebagai hasil karya para penginjil pribumi Jawa yang menghasilkan jemaat dari budaya Jawa. Sehingga munculah suatu Jemaat pribumi berpenampilan Jawa, di mana jemaat ini bermula dari sebuah “house Church” yang memiliki kebaktian bersifat informal. Karena alasan inilah  para PI menaruh kecurigaan pada jemaat tersebut. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Hal ini tidak terlepas dari fondasi dasar yang telah diletakkan oleh para penginjil pribumi, secara khusus Sadrach yang berasal dari suku pribumi Jawa. Dalam pekerjaannya sebagai pengabar Injil, ia selalu menghargai kebudayaan, sehingga ia tidak pernah lepas dari budaya dan tradisi Jawa. Dan menurutnya, pertobatan berarti pembebasan yang meliputi kebebasan untuk menghargai dan mempertahankan budaya serta tradisi Jawa. Sehingga kebaktian dan sistem ritualnya terikat dengan tradisi Jawa. Hal ini dapat dilihat dari praktik yang dilakukannya, di mana gereja yang dibangun serupa dengan Mesjid, selain lonceng mereka masih menggunakan bedung seperti yang digunakan di Mesjid sebagai panggilan untuk beribadah. Dan dalam hal busana, jemaat masih menggunakan busana Jawa dan tidak mengenakan busana para penginjil dari Eropa. Serta pada saat pelaksanaan ibadah mereka mengikuti tradisi Islam, di mana tempat duduk laki-laki di dalam gereja dipisahkan dari tempat duduk perempuan. Perempuan menggunakan kerudung. Selain daripada itu, mereka masih menggunakan istilah-istilah Islam, misalnya nama gereja disebut Mesjid, sedangkan bagi para pemimpin jemaat menggunakan nama imam. Dari peristiwa ini, maka Uhlenbusch menamakannya sebagai “Kristen islam” dan Bakker menyebut mereka sebagai “agama Islam dalam kemasan Kristen”. Selain daripada itu, jemaat Sadrach ini menggunakan struktur gereja episkopal. Meskipun pada awalnya Sadrach tidak menaruh perhatiannya pada aspek kelembagaan jemaat. Namun, perhatiannya yang utama adalah tertuju pada penyebaran ngelmu baru, karena ia berlatar belakang guru ngelmu dan Kiai. Sehingga jemaat lebih bersifat mistis, lebih menekankan spritualitas.

Meskipun demikian, usaha para anggota jemaat Sadrach untuk mengkristenkan adat dan tata cara Muslim Jawa mengesankan, karena adat kebiasaan Jawa sangat diperlukan dalam konteks kehidupan masyarakat desa, sehingga mereka melakukan percobaan yang menakjubkan untuk tetap mempertahankan warisan leluhur tanpa menghindari iman baru mereka.

Sehubungan dengan itu, menurut pembaca dari buku “Kaum Sadrach dan akar kontekstualnya”, bahwa tindakan yang dilakukan oleh Sadrach dan para pengikutnya merupakan suatu hal yang baik, meskipun masih ada kelemahan dalam praktek-praktek mereka. Mengapa? Karena Sadrach dan para pengikutnya mencoba untuk menyampaikan injil lewat kaca mata budaya setempat, sehingga jemaat yang menerima injil mudah memahami injil yang disampaikan, karena injil tersebut berjalan dengan menggunakan media kebudayaan setempat.


[1] F.L. Anthing adalah seorang sarjana dan praktisi hukum yang telah menjadi penginjil dan tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah seorang tokoh yang meyakini bahwa pendekatan yang paling menjanjikan untuk pewartaan injil di Jawa ialah melalui orang-orang Kristen Jawa “inlander moet worden gewonnen door deinlander”.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: