JOHN WESLEY HIDUP DAN PELAYANANNYA

27 12 2011

 Bab1.

Pendahuluan

John Wesley adalah tokoh pencetus Metodisme. Dia adalah seorang yang sangat saleh dan seorang pengkhotbah yang sangat bersemangat. Ia memiliki kecakapan luar biasa dalam memimpin organisasi. Dia dilahirkan di Epworth, pada tahun 1703. Ia adalah seorang anak Pendeta Gereja Anglikan (Gereja Inggris). Ayahnya bernama Samuel Wesley dan ibunya bernama Susanna Annesley, yang banyak mempengaruhi kepribadian John Wesley sehingga menjadi seorang tokoh yang terkenal sampai sekarang ini. John Wesley dikenal sebagai seorang pemimpin gerakan kebangunan Rohani di Inggris pada abad ke-18 bersama dengan saudaranya yang bernama Charles Wesley dan juga sahabatnya yang bernama George Whitefield yang pada umumnya di pandang sebagai pendiri Gereja Metodis. Munculnya gerakan Metodisme ini bermula dari pertobatan yang dialami oleh John Wesley pada tanggal 24 Mei 1738. Untuk lebih mengerti tentang kehidupan dan pelayanan John Wesley ini, maka penulis akan mencoba memaparkan kehidupan dan pelayanaan John Wesley sehingga menjadi seorang yang terkenal. Bab 2. Pembahasan 2.1 Riwayat hidup John Wesley John Wesley lahir pada tahun 1703 di Epworth. Ia adalah putera seorang pendeta Anglikan bernama Samuel Wesley. Dan ibunya bernama Susanna Annesley yang lebih banyak mempengaruhi pertumbuhan kepribadian John. Susanna adalah seorang wanita yang saleh dan perpendidikan. Ia menguasai bahasa Yunani, Latin, Perancis, dan juga cakap menulis dan berpidato. Kecakapan intelektualnya ini, di samping kesalehannya, banyak diturunkan kepada John dan saudara-saudaranya. Mereka menempuh pendidikan dasar di rumah, langsung di bawah asuhan ibu mereka. John adalah anak ke-15 dari Sembilan belas bersaudara (sepuluh diantaranya meninggal ketika masih bayi). Ketika John Wesley berumur lima tahun, rumah pendeta terbakar habis. John terkurung di atas loteng rumah dan baru dapat diselamatkan pada menit-menit terakhir. Kejadian ini membuat ibunya melihat John sebagai “ puntung yang telah ditarik dari api “ (Zakharia 3:2), yang diselamatkan untuk tugas khusus. Pada tahun 1714, John memasuki Chartehouse School di London. Ia belajar hingga tahun 1720 dan kemudian pindah ke Church Christ pada universitas Oxford. Pada tahun 1724 ia menyelesaikan pendidikan tingkat Sarjana muda. Atas nasihat ayahnya ia menerima jabatan diakon pada tahun 1725 dan diangkat menjadi asisten dosen pada Lincoln college, oxford pada tahun 1726 sambil menyelesaikan program Sarjananya. John mulai tertarik dengan mistik. Ia mulai mempelajari tulisan-tulisan yang bersifat mistik, seperti: Imitatio Christi, karangan Thomas kempis yang terkenal itu. Pendidikan sarjana berhasil diselesaikannya pada tahun 1727. Ia kini diangkat menjadi Imam pembantu pada ayahnya sendiri di Epworth, karena ayahnya tidak kuat lagi. Dan pada tahun berikutnya, John diangkat menjadi Presbiter di Epworth. Pada tahun 1729, John kembali ke Oxford. Adiknya yang bernama Charles Wesley telah memulai “ Holi Club” ( klub suci )”, yang tak lama kemudian dipimpin oleh John. Perkumpulan tersebut mewajibkan displin pribadi, suatu kehidupan dengan ketaatan yang tinggi dan pelayanan sosial yang efektif. Mereka dijuluki Methodis oleh orang-orang yang ingin mencemarkan mereka, karena mereka menggunakan metode-metode keras dalam pencarian kesucian. Anak-anak muda itu mencari keselamatan, namun latihan-latihan devosional yang amat keraspun tidak memberi kedamaian pada John. Seperti Luther, John berupaya mendapatkan anugerah Allah dan menemukan kekosongan. John menaati peraturan ketat the Holi Club ini semata-mata dengan alasan ingin menyelamatkan jiwanya dengan jalan terbebas dari dosa. Ini diketahui dalam sebuah surat yang ditujukan kepada ayahnya “satu-satu tujuan hidup saya adalah untuk mencapai kesucian diri. John meyakini bahwa bila ia berhasil mencapai kekudusan serta kemurnian sejati, ia akan memperoleh keselamatan. Ia terus mencari kesempatan untuk dapat menempa jiwanya. 2.2 Pertobatan dan Pelayanan John Wesley Sesudah ayahnya wafat pada tahun 1735, John dan Charles Wesley berlayari ke Georgia, Amerika. John berkesempatan menjadi misionaris di kalangan suku Indian. Di kapal ia berkenalan dengan orang-orang Moravia (kaum pietis). Orang-orang moravia ini adalah sekelompok orang-orang Protestan yang diusir oleh pemerintah Austria pada tahun 1722. Mereka berpindah ke Jerman dan di sana mereka mendirikan suatu desa yang baru yang diberi nama: Herrnhut. Mereka mendirikan perhimpunan saudara-saudara Injili. Mereka merupakan golongan tersendiri yang mempunyai undang-undang sendiri walaupun masih tergolong dalam gereja Lutheran dan zinzendorf menjadi pemimpin mereka . John sangat terpengaruh dengan kesalehan mereka. Di kapal yang ditumpangi hampir tenggelam diterjang badai. John amat ketakutan , namun orang-orang Moravia itu tidak takut sedikitpun. John Wesley ingin mengetahui penyebab mereka tidak takut. Sehingga dia bertanya dan orang-orang Moravia itu berkata “ tidak, Tuhan ada bersama kami. Kami tidak takut mati. Dari peristiwa itu, John sadar bahwa ia tidak memiliki iman seperti orang-orang Moravia itu. Di Georgia yang menjadi tempat untuk mencapai keselamatan melalui suatu aktivitas pelayanan, justru menjadi tempat di mana ia mengalami kegagalan total. Ia tidak pernah menemui suku pribumi Amerika tersebut. Sebaliknya, ia melayani sebagai seorang pendeta dalam sebuah jemaat dan dalam waktu singkat telah mengalami konflik dengan jemaat tersebut. John jatuh hati kepada seorang pendatang cantik bernama Sophy Williamson dan membayangkan pernikahan. Tetapi wanita ini menolaknya dan menikah dengan orang lain yang menurut John pria ini tidak memperhatikan agama. Karena sakit hati dan merasa terpukul cintanya ditolak, maka John membalas dendam dengan cara mengucilkan wanita tersebut dari perjamuan kudus. Setelah itu John mengambil keputusan untuk kembali ke Inggris. Dalam perjalanan pulang ke Inggris, John memeriksa ulang keadaan rohaninya dan berkesimpulan bahwa ia tidak memiliki vitalitas rohani. Ia teringat pada percakapannya dengan para penginjil Moravia ketika mereka sedang menuju Amerika. Ia juga menemukan kelegaan ketika berbicara dengan Peter Boehler, seorang penginjil Moravia yang hendak menuju Amerika, tak lama setelah John kembali ke Inggris. Boehler menyatakan bahwa upaya-upaya John mengejar kesucian sangat dangkal, karena ia tidak mempunyai iman yang sejati kepada Yesus Kristus. Boehler memberi saran kepada John untuk berkhotbah sampai mempunyai iman dan jika sudah mempunyai iman, john akan mengkhotbahkan iman. Tak lama setelah pengalamannya dengan Boehler, hidup Wesley berubah, yaitu ia mengalami pertobatan Injili pada tanggal 24 Mei 1738. Pengalaman itu dicatat Wesley dalam Journal (catatan hariannya) sebagai berikut: “Senja itu dengan sangat enggan aku pergi ke sebuah persekutuan di jalan Alderstage. Di situ seseorang sedang membaca pengantar Luther kepada surat Roma. Kira-kira jam Sembilan kurang seperempat, sementara ia menguraikan perobahan yang Allah kerjakan di dalam hati melalui iman kepada Kristus, aku secara aneh merasa hatiku dihangatkan. Aku merasa betul-betul mempercayakan diri pada Kristus; Kristus saja, demi keselamatan; dan suatu jaminan diberikan kepadaku, bahwa ia telah menyingkirkan dosa-dosaku dan menyelamatkan aku dari hukum dosa dan maut.” menurut John, pada waktu manusia mengalami kelahiran kembali ‘kerak-kerak dosa’ masih tetap bersarang di dalam diri manusia dan itulah yang terus diperangi disepanjang hidup. Dengan ajaran ini gereja Metodis mengimbau orang beriman agar menaati perintah Allah, meninggalkan perbuatan dosa dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan (Ibr 12:14). Pengalaman ini menjadi titik balik di dalam kehidupan John Wesley, sekaligus menyadarkannya bahwa banyak orang di Inggris tidak memiliki iman dan kesucian. John mulai berkhotbah bersama-sama dengan adiknya, Charles. Ada seorang lagi yang menggabungkan diri kepada mereka yaitu George Whitefield (1714-1770), yang sudah bekerja selaku pengkhotbah di Amerika dengan banyak berkat dan hasil. Keadaan kerohanian di Inggris pada zaman itu sangat menyedihkan. Orang-orang kaya dan orang-orang terpelajar dipengaruhi oleh pencerahan, sehingga mereka menghina gereja. Orang-orang miskin pun dihina oleh gereja, yang tidak melayani mereka, sehingga mereka tidak tahu apa-apa tentang Injil. Pendeta-pendeta umumnya menikmati kehidupan yang baik. pencerahan telah berpengaruh besar. Sehingga banyak pendeta dalam khotbah memuji-muji keunggulan akal budi dan kemajuan yang dihasilkan ilmu pengetahuan. John Wesley seorang yang berbadan kuat. Selama 50 tahun ia berkeliling terus menerus untuk mengabarkan Injil di mana-mana. Khotbahnya berjumlah 40.000 buah. Mula-mula ia berkhotbah di gedung-gedung gereja. Banyak pendeta yang tidak suka pada perkataannya, karena dianggap terlalu kasar atau terlalu kuno, sehingga mereka tidak memberi izin kepadanya untuk memakai gedungnya. John Wesley terpaksa berbicara di tempat terbuka. Ia berkhotbah kepada siapa saja yang mau mendengar, “kuanggap seluruh dunia sebagai jemaatku. Maksudku adalah bahwa di bagian manapun aku berada, aku anggap benar, pantas, bahkan tugas yang diwajibkan kepadaku untuk menyatakan kepada siapa saja yang mau mendengar berita sukacita keselamatan.” Kadang-kadang terutama pada tahun-tahun awal, ia menghadapi permusuhan, termasuk dilempari dengan batu. Namun ia bertekun dan masih berkhotbah di udara terbuka pada usia 87 tahun tak lama sebelum dia meninggal. Hanya beberapa tempat saja di Inggris yang tidak dikunjungi oleh Wesley. Metode John dalam penginjilan yaitu berkhotbah dengan bahasa sederhana, seraya memakai banyak kiasan, perumpamaan dan cerita. Segala siksa di neraka digambarkan dengan nyata-nyata. Tiap-tiap khotbah diakhiri dengan seruan dan undangan kepada jemaat supaya bertobat pada ketika itu juga. Menurut Wesley, seorang Kristen sanggup mencapai kesempurnaan dalam pengudusan hidup oleh usahanya sendiri dengan bantuan roh Tuhan. Inilah ajaran “perfeksionisme” (perfek, Latin: sempurna). Jadi, teologi Wesley bercorak Arminian, ajarannya sebagai berikut: 1. Manusia jahat total sejak lahir, tetapi dengan pertolongan Allah dapat berbuat baik. 2. Allah memilih semua orang untuk diselamatkan, tetapi untuk dapat diselamatkan, seseorang harus meresponi pilihan Allah dengan iman. 3. Pendamaian Allah adalah untuk semua orang. 4. Manusia bisa menolak anugerah Allah dan manusia bisa murtad dan menolak Allah. Pandangan ini dilawan oleh Whitefield, yang mempunyai teologi Calvinis dan mendasarkan pertobatan serta kekudusan hidup itu pada Predestinasi. Perbedaan pendapat ini menyebabkan perpisahan antara pekerjaan Wesley dengan Whitefield (1741), tetapi mereka tetap bersahabat dan saling menghargai. Kebanyakan pengikut mereka mengikuti Wesley karena ia seorang pengatur yang amat cakap. John wesley tidak berniat untuk berpisah dari Anglikanisme. Sesungguhnya mereka ingin melihat pembaharuan berlangsung dari dalam gereja. Perpecahan itu berlangsung pelan, ketika pada tahun 1784 John mempersiapkan kelanjutan Metodisme setelah kematiaannya, adiknya Charles tidak menyetujui perpecahan itu. Gereja Metodis ini banyak menarik anggota keluar dari gereja resmi. Nama Metodis itu berasal dari nama sindiran “metodis” ketika di Oxford. Gereja Metodis ini berdasar pada pertobatan anggota-anggotanya yaitu pada perbuatan dan kehendak mereka sendiri, maka gereja itu diatur seperti suatu perhimpunan manusia belaka. Tiap-tiap anggota menerima sepucuk surat keanggotaan yang dibaharui sekali dalam tiap tiga bulan, jikalau anggota itu berkelakuan baik dan suci, tetapi apabila seseorang kalah dalam pemeriksaan rohani itu surat keanggotaannya dicabut. Sifat lain yang istimewa pada gereja Metodis ialah: di samping pendeta-pendeta yang telah dilatih untuk jabatannya, mereka mempunyai banyak pengkhotbah pembantu yang dipilih dari antara kaum awam. Masing-masing anggota gereja juga wajib turut menyiarkan Injil. Akibatnya ialah semangat orang-orong Metodis selalu sangat aktif dan gembira. Metodisme menempatkan Alkitab sebagai dasar ajaran iman satu-satunya. Mereka berpegang pada ajaran tentang Trinitas, keilahian Kristus, dosa universal, karya penebusan dosa oleh dan dalam Kristus. Metodisme juga menekankan Imamat am orang percaya, keselamatan hanya oleh iman dan pentingnya kesucian hidup serta pekerjaan roh kudus dalam hati orang-orang percaya. 2.3 Perkembangan gereja Metodis Organisasi ini berkembang dengan sangat mengagumkan di seluruh Inggris bahkan sampai di Irlandia (1747) dan di Skotlandia (1751). Gerakan Methodisme ini juga dibawa ke Amerika dan gerakan ini berkembang dengan pesat juga di sana. Untuk mengawasi pekerjaan Methodisme di Amerika, maka diangkatlah Dr. Thomas Hoke menjadi super intendent pada tahun 1784. Dalam pekerjaan penginjilan John Wesley menggerakkan pengkhotbah-pengkhotbah awam. Gereja Methodis Amerika membentuk sebuah lembaga pekabaran Injil Methodis Amerika (American Methodist Mission). Dalam bagian Amerika Utara yang berbahasa Inggris, lahirlah gerakan pembangunan semacam itu juga pada masa Metodisme muncul di Inggris. Permulaan abad ke-20 lembaga pekabaran Injil ini mulai bekerja di Sumatera dan di pulau Jawa serta Kalimantan Barat, khususnya di kalangan orang-orang Tionghoa. Kegiatan lembaga pekabaran Injil ini di pulau Jawa menghasilkan jemaat-jemaat: Mangga besar ( Jemaat Ketapang), Tanah Abang, Bogor, Rangkasbitung. Jemaat-jemaat ini kini menjadi jemaat gereja Kristus. Sejak tahun 1922 lembaga pekabaran Injil ini memusatkan dirinya di Sumatera. Sebagai hasil pekerjaan mereka di Sumatera, lahirlah Gereja Metodis Indonesia (GMI) yang berpusat di Medan dan menjadi salah satu anggota persekutuan gereja-gereja di Indonesia (PGI). Di Amerika Serikatlah Methodisme yang paling berkembang sampai kini. Sekarang ini gereja-gereja Metodis di Amerika mempunyai lebih dari delapan juta anggota. Teologia John Wesley ditandai dengan penekanan pada pendamaian Kristus yang universal. Mereka yang menerima Kristus akan diselamatkan dan mereka yang sungguh-sungguh mencari kesucian hidup akan disucikan dari dosa-dosanya. Ajaran Wesley dituangkan dalam karangan berjudul: Explanatory Notes Upon Testament and Standard Sermons, yang terdiri dari empat jilid. John Wesley meninggal pada tanggal 2 Maret 1791. Dalam perumusan pokok-pokok ajaran, gereja Metodis hampir sepenuhnya berpedoman pada karya-karya John Wesley. John Wesley sendiri baru memberi perhatian terhadap hal itu pada dasa-dasawarsa terakhir kehidupannya. Sebelumnya ia lebih banyak mencurahkan perhatian terhadap pembenahan perilaku umat Kristiani dan keterlibatan dalam pelayanan sosial, kendati dalam Journal yang ia tulis secara teratur sejak masa mudanya, ataupun dalam kumpulan khotbahnya yang tersimpan dengan rapi. Sehingga ditemukan banyak pemikiran dan perenungan yang mengandung gagasan khas khas Metodis. 1. Analisa Setelah penulis menguraikan latar belakang hidup dan pelayanan John Wesley, kita bisa tahu bagaimana kehidupan seorang John Wesley. Bagaimana pertemuannya dengan orang-orang Moravia yang membuat John sadar bahwa dia masih belum sepenuhnya mempunyai iman kepada Yesus Kristus. Sehingga dia terus menempa dirinya untuk memperoleh kesucian diri. Pertemuan itu membuat John bertobat. Ini menjadi teladan bagi setiap umat Kristen untuk saling mengingatkan satu dengan yang lain. Biarlah kita menjadi berkat bagi orang lain yang mampu mengarahkan orang lain untuk menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Dimulai dari diri kita menjadi teladan dan benar-benar percaya kepada Kristus, sehingga orang yang melihat kita dapat menyadari dirinya. Seperti John Wesley ketika bertemu dengan orang-orang Moravia itu, ia menyadari bahwa dirinya tidak mempunyai iman yang penuh kepada Yesus kristus. Semangat pelayanan John Wesley yang sangat luar biasa perlu kita contoh dan kita teladani. Dia tidak pernah putus asa dan mengenal lelah, ia terus berkhotbah kemana-mana untuk mengabarkan Injil, walaupun dia tidak diterima dan tidak disukai oleh pendeta-pendeta lain dan tidak dizinkan untuk khotbah di gereja, John berkeliling di tempat-tempat terbuka untuk memberitakan Injil. Begitu juga dengan kita sebagai hamba Tuhan untuk terus memberitakan firman Tuhan meskipun ada banyak tantangan dan masalah yang kita hadapi, supaya kita bisa menjadi berkat bagi sesama kita. Pertobatan John membuat ia mengalami kelahiran baru dan telah menemukan tujuan hidupnya, yakni untuk mengubah gerejanya dengan memberitakan kebenaran kitab suci ke seluruh wilayah Inggris. John sadar bahwa orang-orang di Inggris tidak memiliki iman dan kesucian sehingga ia berkhotbah bersama dengan adiknya, Charles Wesley dan sahabatnya , George Whitefield. Perjuangan dan kerja keras mereka menghasilkan sesuatu yang sangat mengagumkan yang dapat dirasakan oleh banyak orang yaitu berdirinya Gereja Metodis di bawah pimpinan John Wesley. 2. Kesimpulan John Wesley adalah seorang tokoh yang terkenal di zamannya sampai sekarang. Keberhasilannya tidak terlepas dari didikan keluarga terlebih-lebih ibunya yang banyak mempengaruhi kepribadiannya. Pertobatan John Wesley berawal dari perjumpaannya dengan orang-orang Moravia dan Peter Boehler. Dan pertobatannya memberikan hasil dan buah yang sangat mengagumkan yang dapat dirasakan oleh banyak orang sampai sekarang ini. Demikian pembahasan kehidupan dan pelayanan John Wesley yang memberi pedoman kepada kita dalam melakukan pelayanan dan dalam menjalani kehidupan ini kadang mengecewakan dan juga ada kebahagiaan. Daftar Pustaka 1. Aritonang, Jan Sihar, Garis Besar Sejarah Reformasi, Bandung: Jurnal Info Media, 2007. 2. Aritonang, Jan S., Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK-GM, 2000. 3. H. Berkhof dan Enklaar, L.H., Sejarah Gereja, (Jakarta:BPK-GM, 2000. 4. Kenneth, Curtis A., 100 peristiwa penting dalam Sejarah Kristen, Jakarta: BPK-GM, 2003. 5. Lane, Tony, Runtut Pijar, Jakarta: BPK- GM, 2001. 6. Mecroskey, Robert D., Theologia Sistematis dari sudut pandang Wesley- Arminian, Jogyakarta: khabar kekudusan, 2004. 7. Shaw, Mark, Sepuluh Pemikiran Besar dari Sejarah Gereja, Surabaya: Momentum, 2003. 8. Wellem, F.D., Riwayat Hidup Singkat Tokoh-Tokoh Dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM,2003. 9. Wellem, F.D., Kamus Sejarah Gereja, Jakarta:BPK-GM, 2004.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: