Judi Togel Telah Bangkit lagi dari Kuburannya….!!!!

5 01 2012

Sungguh menyedihkan….

Nasib buruk menimpah masyakat Nias, setelah sekian tahun berhenti…kini judi togel bangkit lagi dari kuburannya…Di daerah Nias Utara pada khusunya…banyak ibu rumah tangga menangisi nasib suaminya yang tiap hari kerjanya hanya duduk disamping meja dengan selembar kertas bertuliskan rumus matematika,  pulpen, serta ditambah secangkir kopi di atas meja sambil menghitung-hitung angka sial apa yang akan muncul hari ini.

Untuk membeli kertas togel sang suami sanggup tapi untuk membayar kebutuhan sekolah anaknya sang suami tidak mampu. untuk membeli sekilo beras suami tidak mampu tapi untuk membeli sepuluh lembar angka jitu togel suami mampu.

Hal ini perlu ditangani dengan cepat, namun siapa yang harus menanganinya? tak lain dan tak bukan ialah para penegak hukum di pulau Nias.

Dimana dirimu Pak Polisi….!!!!…kenapa engkau terus berpangku tangan? kenapa engkau masih membiarkan agen-agen itu berkeliaran?

wahai engkau wakil rakyat….janganlah engkau ngopi dan baca koran terus…berantaslah togel di pulau nias….kasihanlah generasi penerus nias ini, kalau setiap hari hanya duduk dan memutar otaknya untuk mencari-cari angka kematian…..





Pantaiku

3 01 2012





27 12 2011
GMKI

Foto

Kegiatan Anak-anak GMKI Cabang Gunungsitoli, Nias





Teologi Kerajaan

27 12 2011

Teologi Kerajaan adalah sebuah bentuk teologi yang menyoroti posisi seorang raja dalam hubungan dengan ketaatan terhadap Tuhan.[2] Konsep ini secara khusus berkembang dalam kajian terhadap Alkitab, khususnya Perjanjian Lama.[2]

Kedudukan raja di Asia timur kuno seringkali diposisikan sebagai sosok yang harus disembah.[3] Dalam teologi kedudukan tersebut merupakan persoalan utama dalam teologi kerajaan.[2] Dalam tradisi Israel, teologi kerajaan muncul sehubungan dengan fakta bangsa Israel adalah bangsa teokratis yang diperintah oleh seorang raja.[4] Maka, teologi kerajaan menekankan peran raja sebagai pemegang mandat Allah atas umat.[2] Seperti Allah menghendaki suatu pemerintahan yang adil.[5]

Penantian seorang raja yang adil mengarah pada pengharapan mesianik yang memainkan peran besar dalam hal kepercayaan umat para nabi pada zaman raja-raja.[2] Sejarah tersebut dimulai kurang lebih lima abad dari pergumulan konteks para nabi di Kanaan.[2] Dimulai dari pengangkatan Saul pada tahun 1020 SM dan diakhiri dengan kematian Yoyakhin pada masa pembuangan di Babel pada tahun 550 SM.[2]

Melalui kehadiran raja dan kerajaan kehidupanan umat akan berhubungan dengan kultus, solidaritas keumatan dan bangsa, dan masalah-masalah sosial yang dipengaruhi kebudayaan.[6] Dampak pendirian Kerajaan dapat dilihat dari sisi positif yang membangun, dan sisi negatif yang menimbulkan kemerosotan terhadap totalitas kehidupan umat.[6] Dampak tersebut tergantung pada ketaatan sang raja terhadap Yahweh yang mengangkat dan meneguhkan raja lewat orang pilihannya maupun rakyat.[3][6]

Terminologi Raja

Kata Raja dalam bahasa Ibrani מֶלֶךְ artinya raja, menjadi raja, memerintah, atau menjadi ratu (lihat ratu Sebah dari Persia dalam 1 Raja-Raja 10, Mazmur 45:9, dan Yeremia 7:18). Bentuk kata benda feminim kata ‘melek’ berubah menjadi ‘malak’ dan diterjemahkan sebagai ‘kerajaan’. Sementara itu, bentuk kata benda maskulin dari kata ‘melek’ berarti ‘raja’. Kata melek dipakai secara meluas dalam dunia semetik barat, seperyi bahasa Ugarit, Moab, Mesha, dan Akkadia. Pada awalnya, kata raja ditemui dalam budaya Mesir, Mesopotamia, Asyur, Babilonia, Kanaan, Palestina, Edom, Moab, dll.

Dalam Targum kata raja seperti dalam Keluaran 1: 8, dan Keluaran 2: 37, disebut raja di atas segala raja. Di Persia kata ‘melek’ diterjemahkan raja atau kerajaan. Di Akadian kata malak merupakan penasehat yang mengangkat raja. Kata benda “raja”, muncul dari akar kata malak yang berkaitan erat dengan monarki pemerintahan yakni kota, tanah, teritorial. Formulasi kerajaan pertama dalam kitab suci ditemukan dalam Habakuk 9: 2, dan 1 Samuel 8: 11-17. Maka, Metaphorik dari kata ‘melek’ juga digunakan bagi Allah Israel. Selanjutnya diadopsi oleh Mesopotamia, Mesir, Syria, misalnya 2 Samuel 3: 21 dan Nehemia 2: 3. Dengan demikian, penggunaan kata raja dalam Perjanjian Lama maupun dalam budaya sekitar Kanaan merupakan sebuah totalitas pemerintahan kerajaan seyogyanya imam merangkap raja. Kerajaan berkaitan erat dengan raja dan sistem pemerintahan.

Selanjutnya kata benda ‘malak’ dalam Mikha 5: 1 dan Yesaya 14: 5, secara negatif mengacu pada pemerintahan monarki. Walaupun tidak ada konteks spesifik yang menunjukkan makna negatif terhadap kata malak. Maka, dalam kebudayaan dunia pemerintahan saat itu kata melek diartikan sebagai pemerintahan sebagai seorang raja, menjadi raja, dan menyebabkan pemerintahan. Dalam kebudayaan Asia Timur kuno kata kerja malak berarti (raja) memberi nasihat, sedangkan bentuk kata kerja malak mengarah pada kerajaan Yahweh.

 

Konsep Raja Dan Kerajaan Dalam Budaya Timur Kuno

Perhatian khusus Asia Timur kuno terhadap keadilan sosial adalah latar belakang posisi raja.[10] Bangsa-bangsa di Asia Timur kuno mempunyai kepercayaan bahwa masalah keadilan dan masalah sosial mempunyai hubungan yang erat dengan ilah-ilah misalnya, di Mesopotamia dikenal dewa Utala yang dewa matahari dan keadilan.[10] Selain itu, dewa Nase yang peka terhadap penindasan.[10] Di Mesir, dewa Maad sebagai dewa peraturan dan keadilan.[10] Dewa ini mendelegasikan tugas pada Firaun yang disebut penjelmaan dewa Maad.[10] Oleh karena itu, raja mempunyai kuasa untuk menerapkan undang-undang kepada rakyat termasuk peraturan yang berhubungan dengan keadilan sosial.[10] Selain Firaun, raja Hamurabbi dianggap sebagai jelmaan dewa Shamash yang menerima kuasa mutlak untuk menetapkan dan menerapkan undang-undang.[10]

Raja adalah jelmaan dewa, maka raja mempunyai kuasa mutlak atas penetapan dan pelaksanaan undang-undang.[10] Raja juga disebut sebagai anak Allah secara biologis.[10] Raja tidak berada di bawah hukum, melainkan berada di atas hukum.[10] Bahkan para pembantu raja pun tidak terjangkau oleh hukum.[10] Hukum-hukum hanya ditujukan pada rakyat jelata.[10] Dalam tradisi Yerusalem, jabatan raja dikombinasikan dengan jabatan imam.[10] Menurut tradisi Yebus raja dianggap bukan hanya pemimpin politis melainkan juga pemimpin kultus.[10]

Bukti-Bukti Arkeologi

Beberapa penemuan para Arkeolog yang menguatkan keterangan Alkitab, misalnya penemuan benteng kecil di kota Gibeah ibukota kerajaan Saul, benteng pertahanan Salomo di Megido dan sisa-sisa bangunan di Ezion Geber, dan di Laut Merah.[2] Selain itu, pelabuhan, tambang, galangan, kapal dagang Salomo di Ezion Geber, bait Allah di Syria dan Kanaan dan perabotan kerajaan Salomo seperti yang diuraikan dalam 1 Raja-raja. Selain itu, ditemukan tulisan-tulisan kuno tentang sejarah kerajaan Israel dalam hubungan bilateral saat itu, seperti di Mesir, Asyur dan Babel (2 Raja-raja 1: 1, 3:4).[2] Selanjutnya, batu prasasti di Moab yang didirikan oleh Raja Mesha.[2] [2] Sementara di Palestina ditemukan dua prasasti yang tertulis dalam bahasa Ibrani, yaitu prasasti Siloam yang ditulis oleh para penggali saluran air pada zaman raja Hizkia (2 Raja-raja 20: 20).[2] dan surat-surat dari Lakhis yang merupakan korespondensi antara para perwira tentara Yehuda.[2] Ketika bangsa Israel mempertahankan kota Lakhis dan Yerusalem dari serangan kerajaan Babel.[2] Selanjutnya penelitian arkeologi bekas reruntuhan kota Samaria kuno yang dibangun oleh raja Omri ditemukan beberapa hiasan gading.[2] Tetapi perhiasan gading itu diduga berasal dari istana raja Ahab (pengganti raja Omri pada abad 9 SM (1 Raja-raja 22: 39).[2]

Konsep Raja Dan Kerajaan

Kebangkitan sejarah Israel merupakan latar pembentukan monarki Israel.[13] Kedaulatan Raja Daud merupakan titik awal dari periode kedua dalam perkembangan Yahwisme, sejak kerajaan Saul yang terlalu singkat.[13] Maka pemerintahan Raja Daud disebut masa transisi.[13] Perubahan yang secara mutlak dilakukan oleh raja Daud berdasarkan sifat-sifat pribadinya sebagai seorang pemimpin.[10] Status Raja Daud lebih tinggi dibanding seorang hakim.[10]

Selanjutnya raja Salomo, keadaan berubah secara radikal.[4] Bangsa Israel yang sebelumnya memiliki sistem semi nomadis atau pertanian menjadi kerajaan modern yang sangat kuat.[4] Banyak kota-kota dan benteng dibangun dan Yerusalem sebagai ibukota (1 Raja-raja 9: 15).[4] Kerajaan diperlengkapi perangkat kerajaan seperti pejabat istana, tentara dengan kereta kuda, dan pasukan sewaan.[10] Dalam aspek materi, pembangunan tambang emas, sistem pajak, industri dan perdagangan yang berkembang luas.[10] Dalam aspek seni, kesenian dan ilmu pengetahuan berkembang dengan cepat.[10]

Pengaruh perkembangan atas agama Israel sangat revolusioner.[4] Israel mempelajari kepustakaan mazhab hikmat, sehingga mereka menjadi sadar akan unsur kemanusiaan universal dan perbendaharaan pemikiran manusia.[10] Berdasarkan perkembangan itu, Yahweh dipandang sebagai Tuhan seluruh umat manusia.[10] Sepert teori Sumber Y Yahwis menggambarkan Yahweh sebagai Allah sejak awal kejadian atau penciptaan.[10] Konsep penciptaan kemudian disesuaikan dari teologi El Elyon di Yebus dan dimasukkan ke dalam struktur keimanan Yahwis, sehingga disadari bahwa semesta alam bergantung pada Yahweh.[10]

Dengan demikian, kerajaan Salomo berkembang sejajar dengan perkembangan negara.[10] Kerajaan dimutlakkan dengan berbagai sumber tradisi dan upacara di Kanaan, Mesir, dan Fenisia, bahkan mendapat warna keagamaan seperti tradisi-tradisi Yebus.[10] Bangsa Israel menekankan beradaan Yahwe sebagai Allah berbeda di negara tetangga yang mengangap raja sebagai oknum ilahi seperti di Mesir dan di Babel, raja mewakili ilah di Babel.[14] Bangsa Israel percaya bahwa raja hanya sebagai anak Allah atau hamba agung Yahweh (Mazmur 2: 7 dan 110).[14] Dalam Mazmur 110, penobatan raja berarti imam sejati.[14] Imam menjadi sumber keadilan yang agung yang menyelamatkan kaum tertindas dan kedamaian.[14]

Peranan Raja Dalam Kultus

Peran raja dalam kultus adalah pengantara Yahweh dengan Israel.[10] Raja berperan sebagai wakil Allah dan bangsa dalam mempersembahkan korban (Mazmur 110: 4).[14] Secara prinsip raja dianggap sebaga imam agung dalam negara.[14] Raja bukan hanya membangun bait suci, tetapi juga memimpin upacara-upacara peresmian bait suci termasuk pembacaan syair-syair dan ratapan (1 Raja-raja 8: 5,14,22,54).[10][16]

Peran raja dalam kultus juga tampak pada pemerintahan yang menyiksa seperti sistem rodi.[17] Kesalahan Daud dan Salomo adalah menyebabkan timbulnya faktor disentegrasi kesatuan bangsa atau kerajaan.[17] Perkembangan dimulai dari kerajaan Rehabeam tahun 928 SM yang diwarnai pergantian raja yang silih berganti.[17] Kemudian runtuhnya kerajaan Yehuda pada masa pembuangan terakhir tahun 582 SM (Yeremia 52: 30).[17] Pada masa pembuangan, para nabi menyuarakan pengharapan mesianik agar mengembalikan eksisitensi serta substansi raja dan kerajaan yaitu menghadirkan kasih, keadilan, dan damai sejahtera dalam totalitas hidup dengan dasar ibadah yang benar pada Yahweh.[17]

 

Pandang Kitab Terhadap Raja dan kerajaan

Pandangan Sejarah Deuteronomis Terhadap Raja Dan Kerajaan

Pada Kitab Samuel dan Raja-raja diuraikan tentang pemerintahan Daud dan Salomo.[17] Sesuai sejarah Deuteronomis dalam 2 Samuel 7:11; 23:5 dan teologi Sion dalam Mazmur 132, terdapat sebuah perjanjian kekal antara Tuhan dengan Raja Daud.[17] Tuhan memilih Daud menjadi raja dan membangun kerajaannnya serta memelihara keturunannya.[17] Raja Daud dilihat sebagai anak Allah.[17] Akan tetapi, Raja Daud berada di bawah kuasa Allah dan tindakan yang dilakukan adalah dibawah hukum Allah.[17] Maka, krygma kerajaan Daud adalah ketaatan dan penegakan keadilan dan kebenaran.[17]

Konsep ideologi, Allah sebagai raja, maka Daud sebagai raja berada di sebelah kanan Allah.[17] Seperti sejarah Deuteronomis, berpengharapan akan kehadiran sosok mesianik dalam keselamatan Allah yang holistik atas dunia dan umatNya.[17] Sejarah Deutronomis memaparkan akan totalitas raja, di mana raja turut berperang dalam pendirian kultus, misalnya cerita Daud dan Salomo.[17]

Sementara kerajaan Allah dalam Perjanjian Lama merupakan tema sentral teologi Perjanjian Lama.[17] Di mana konsep raja dan kerajaan bangsa Israel selalu berhubungan erat dengan pemahaman akan kerajaan Allah.[17] Mowinkel melihat bahwa konsep kerajaan Allah terikat dengan kultus dan bentuk-bentuk ritual umat Israel.[18] Menurut N. Lohfink, bahwa konsep kerajaan Allah terikat dengan konsep aplikasi sosial dalam sejarah perjalanan umat Israel.[19] Maka, transformasi pembentukan kerajaan berhubungan erat dengan konsep Yahweh bagi umat.[19] Pembentukan kerajaan tidaklah lepas dari kultus dan mite budaya dunia timur kuno, karena umat bergumul di tengah-tengah budaya tersebut.[19]

Dengan demikian, kultus Israel yang dipengaruhi oleh budaya bangsa lain menerapkan konsep raja dan kerajaan Allah.[17] Di mana umat yang bergumul untuk membangun suatu bentuk kultus dan hukum-hukum yang sesuai dengan keyakinan monoteisme.[17]

 

Pandangan Sejarah Tawarikh Terhadap Raja Dan Kerajaan

Dalam 1 Tawarikh 10-29 dan 2 Tawarikh 1-9 diuraikan sumber-sumber utama perpecahan kerajaan Israel seperti dalam 1 Raja 12- 2 Raja 25.[17] Cerita-cerita dalam bagian ini ditulis berdasarkan kebudayaan saat itu.[17] Sumber yang lain adalah 2 Tawarikah 10-36, menguraikan narasi dari kitab Raja-raja.[17] Namun Tawarikh lebih fokus pada penonjolan Daud dan Salomo sebagai pendiri kultus.[17] Tawarikh menekanan pada perjanjian Daud.[17]

Berbicara tentang kerajaa Daud dalam Tawarikh berarti penunjukan sebuah kerajaan kekal yang didemonstrasikan oleh Allah dalam memberkati Daud sebagai peerwakilan bangsa Israel (Tawarikh 9: 35-10: 14). Selai itu, peran Daud dalam pembangunan kultus atau peribadahan dan pendirian Bait Suci (Tawarikh 22: 2-19; 29: 1-9; 23: 1-32).[20] Dengan kata lain, Raja Daud hanya diijinkan oleh Allah untuk merencanakan pendirian bait suci, sedangkan yang membangunnya adalah anaknya, Salomo.[17]

Pandangan Nabi-Nabi Terhadap Raja Dan Kerajaan

Dalam Yesaya 1-39, Hosea, Amos dan Mikha menguraikan keterangan dalam bidang agama, budaya dan sosial bangsa Israel.[21] Nabi Yesaya lebih terfokus pada hubungannya dengan pelayanan pemerintahan para raja (Yesaya 1:1).[21] Sejarah Deuteronomis dan Tawarikh memaknai kembali keadaan masa lampau bangsa Israel dan hadir sesuai konteksnya.[21]

Sikap kritis yang tampak di dalam kalangan profetis para nabi adalah menyatakan keberatannya terhadap aturan–aturan sosial dan agamani yang ditetapkan Salomo.[21] Tindakan raja Yerobeam I yang menaruh patung lembu di kuil Betel dan simbol Yahweh (1 Raja-raja 12: 28), telah memberi jalan pada gerakan sinkretisme sampai masa sebelum pembuangan.[21] Hal ini mengakibatkan perlawanan raja dan nabi yang setia pada Yahweh.[21]

Dalam masa Nabi-nabi, perkembangan raja dan kerajaan banyak disoroti akibat penyalahgunaan kekuasaan raja yang mengakibatkan kerajaan tercemar, bahkan berdampak negatif terhadap perkembangan kultus dan tindakan praksis sosial umat seperti pembuangan.[22] Maka setelah pembuangan, kerajaan Yahweh dikembalikan melalui tindakan pembebasan dan pemulihan relasi Allah dengan umat, dan rekonsiliasi kerajaan Utara dan Selatan.[22]

Teologi Kerajaan

Konsep malak atau pemerintah di Israel berakar pada sistem politik Kanaan pada abad pertengahan dan abad kemudian.[22] Salah satu asumsi adalah transisi dari masa kepemimpinan kahrismatik militer, Daud kepada dinasti kerajaan dengan administrasi sentral, Salomo.[22] Hal ini menjelaskan bahwa tradisi telah dievaluasi dari masa kerajaan monarkhi Israel berakhir pada periode anarkhi.[23] Sesuai dengan tradisi Deuteronomis dan Tawarikh perkembangan kerajaan Israel merupakan masa yang sakral.[23] Samuel mengakat Saul dan Daud dengan penekanan pada pemilihan Allah dan perjanjian Allah (bdk 1 Samuel 9 and 16).[23] Dalam suku Yehuda menerima legitimasi kudus dari pemilihan Yahweh akan dinasti Daud melalui perjanjian Daud. Oleh karena itu, sangat ditekankan akan ketaatan pada Yahweh (1 Raja-raja 2:4; 3:6; 6:12; 8:25; 1 Samuel 12:14-25; 2 Tawarikh 12:1; 16:7-9; 20:35-37; 21:4-7; 26:16-21).[23]

Allah dalam relasiNya rela menjalin relasi kepada manusia. Allah di dalam keilahianNya tidak dipisahkan dengan umat (1 Tawarikh 13: 9-10).[24] Allah dalam tindakannya yang kudus tidak hanya membuka relasi dalam ciptaanNya, tetapi turut bertindak dan menyertai, misalnya kesuksesan Raja Daud yang diyakini sebagai kuasa Yahweh.[24] Allah di dalam tahtaNya, (1 Tawarikh 17: 20; 2 Tawarikh 2: 5).[24] Sejarah Alkitab dan nabi-nabi melihat bahwa Allah itu nyata dirinya dalam tindakannya (pekerjaannya).[24] Mereka dilihat tidak hanya sebagai inisiator pemberi perintah tentang proses perkembangan sejarah, tetapi nyata dalam pemilihan, pembebasan, penyelamatan.[24]

Monarkhi Israel merupakan fenomena yang kompleks karena tidak hanya berhubungan dengan politik kenegaraan, tetapi juga berhubungan dengan institusi religius.[25] Maka, penekanan substansi raja dan kerajaan perlu fokus pada perkembangan kultus yang terefleksi secara nyata dalam tindakan-tindakan sosial umat baik secara individu, keumatan dan juga solidaritas kebangsaan atau kenegaraan dengan bangsa sekitar.[25] Hal ini merupakan esensi dari pemilihan dan pembentukan raja serta kerajaannya, yang berkaitan erat dengan rencana agung penyelamatan Allah yang bersifat holistik.[25] Orietasi ini digambarkan oleh Eichrodt sebagai efek dari kerajaan tersebut.[25] Adapun efek dari monarkhi Israel adalah pertama Allah yang bertindak lewat raja, kedua adanya perkembangan kehidupan keagamaan.[25] Kekudusan kerajaan sangat penting sebagaimana ditekankan oleh pemikiran Deoteronomis (1 Samuel 8: 7; 12: 12).[23] Dalam Teologi Perjanjian Lama jelas bahwa konsep kerajaan Yahweh adalah sentral dan dasar bagi Perjanjian Lama. Preuss menyatakan bahwa Yahweh disebut sebagai Raja atas segala raja dan juga segala dewa-dewa (Mazmur 47: 3-8).[23] KuasaNya melebihi segala yang ada di bumi (Mzm 103: 19). Dia adalah Raja atas segala bangsa, tetapi Dia juga adalah Raja atas umatNya.[23] Konsep-konsep pengagungan akan Yahweh tidak terlepas dari tindakan kasih setia Tuhan dalam memelihara umatNya yang dilakukan oleh Raja yang dipilih oleh Tuhan.[23]

Referensi

  1. ^ Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta: LAI. 2010. Hal. 483. ISBN 978-979-463-782-1
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q (Indonesia) Wismoady Wahono. Di Sini Kutemukan. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2009. Hal.145, 130, 127-143
  3. ^ a b (Indonesia) Robert P. Borrong. Berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 1998. Hal.60-61, bdk 44
  4. ^ a b c d e (Indonesia) David L. Baker. Theologia Perjanjian Lama 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2008. Hal.50, 68
  5. ^ (Indonesia) Ch.Barth. Theologia Perjanjian Lama 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2008. Hal.62-63
  6. ^ a b c (Indonesia) Dianne Bergant, Robert J. Karris. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisus. 2002. Hal.215
  7. ^ (Inggris) G. Johannes Botterweck, dkk, (ed). king. Theological Dictionary of the Old Testament, Vol. IX. Michigan: Grand Rapids. 1998.
  8. ^ (Inggris) William. A. Van Gemeren, (ed). king’. New International Dictionary of Old Testament and Exegesis, Vol III Grand Rapids, Michigan: Zondevan. 1997.
  9. ^ (Inggris) Francis Brown, S.R. Driver, and Charles Briggs. king. A Hebrew and English Lexicon of the Old Testament. Oxford, England: Clarendon Press. 1906.
  10. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z aa (Indonesia) Th. C. Vriezen. Agama Israel Kuno. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2000. Hal. xviii, 193, 190, 191, 243.
  11. ^ Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta: LAI. 2010. Hal. 779. ISBN 978-979-463-782-1
  12. ^ (Indonesia) Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta: LAI. 2010.
  13. ^ a b c (Inggris) Yohanan Aharomi. The Land Of The Bible. London: Burns & Oates. 1926. Hal. 286, 288.
  14. ^ a b c d e f (Inggris) Gerhald von Rad. Theology of The Old Testament. Edinburgh and London: Oliver & Boyd. 1962. Hal. 308-318.
  15. ^ Lembaga Alkitab Indonesia. Jakarta: LAI. 2010. Hal. 669. ISBN 978-979-463-782-1
  16. ^ (Inggris) Cynthia Pearl Maus. The Old Testament and The Fine Arts. New York: Hapher & Brother Publisher. 1954. Hal. 225-230.
  17. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x (Inggris) John Bright. A History of Israel. Blomsbury Street London: SCM Pres LTD. 1960. Hal. 317-319, 437, 162.
  18. ^ (Indonesia) H.h.Rowley. Worship in ancient Israel. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2004. Hal. 153.
  19. ^ a b c (Indonesia) Saut Hamonangan Sirait. Politik Kristen di Indonesia: suatu tinjauan etis. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2006. Hal. 235.

20. ^ (Inggris) Paul R. House. Old Testament Theology. Illinois: IVP Downers Grove. 1998. Hal 527-528.

  1. ^ a b c d e f (Indonesia) David F. Hinson. Sejarah Israel Pada Zaman Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2004. Hal 140.

22. ^ a b c d (Inggris) Dr. Paul Heinisch. Theology of The Old Testament. St Paul: North Central Publishing Company. 1955. Hal 311-315.

23. ^ a b c d e f g h (Inggris) Horst Dietric Preuss. Old Testament Theology Vol 1. Edinberg: T&T Clark. 1991. Hal 154, 155-159.

24. ^ a b c d e (Inggris) Roy B. Zuck, ed. Eugene H. Merrill, Darrell L. Bock. A Biblical Theology of the Old Testament. Chicago: Moody Press. 1991. Hal 159-160, 161.

^ a b c d e (Inggris) Walter Eichrodt. Theology of the Old Testament Vol 1. Bloomsbury Street, London: SCM Press LTD. 1961. Hal 436, 452-456.





Marthin Luther

27 12 2011

BAB I

PENDAHULUAN

            Salah satu pekerjaan yang selalu di cari oleh setiap insan adalah “Kekuasaan”. Untuk mendapatkannya banyak orang menghalalkan berbagai cara. Hal inilah yang terjadi di dalam GKR (Gereja Katolik Roma) pada abab pertengahan di Eropa Barat. Tujuan dan  fungsi Gereja-Negara tidak jelas bahkan semakin memburuk. Oleh situasi tersebut Luther menerapkan salah satu pokok pikirannya tentang “hubungan gereja dan Negara” yang merupakan salah satu unsur yang terpenting melalui ajarannya “dua kerajaan”. Oleh sebab itu lewat seminar ini kita dapat menemukan beberapa gagasan-gagasan Luther tentang pandangannya terhadap gereja dan Negara.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. I.    Sejarah Singkat Hidup Martin Luther[1]

Martin Luther lahir pada tanggal 10 November 1483 di Eisleben, Saxonia, dan wafat pada tanggal 18 Februari 1546. Ia berasal dari keluarga petani, dan mengaku,”Ich bin ein Bauern Sohn” (Saya anak petani). Ayahnya bernama Hans Luther, dan ibunya Margaret Ziegler.

Pada musim panas 1484, keluarga Luder pindah ke Mansfeld, Magdeburg dan Einsenach. Pada tahun 1501, Luther belajar di Universitas Erfurt dan meraih gelar MA (Magister Artium) pada tahun 1505 melalui Trivum dan Quadrivium. Kemudian sesuai dengan keinginan ayahnya, ia melanjutkan studi dengan memasuki fakultas hukum. Tetapi ketika ia baru memulainya, ia mengalami kejadian yang amat menentukan masa depannya, yaitu ketika ia berjalan di tempat terbuka dalam cuaca yang buruk, ia hampir-hampir tersambar petir; takut akan mati, dan berjanji kepada Santa Anna, bahwa ia akan masuk ke biara.

Dan pada tanggal 17 Juli 1505, ia masuk ke ordo rahib St.Agustinus. Dan pada tanggal 3 April 1507, ia di tahbiskan menjadi imam. Kemudian pada tahun 1512, ia meraih gelar Doktor Teologi.

Pada tahun 1524 ia melepaskan jubah kebiaraanya, dan pada tahun 1525 ia menikah dengan Katherina Von Bora, yang merupakan bekas biarawati. Dari Katherina, ia mempunyai 6 orang anak yang bernama Hans, Elizabeth,Magdalena, Martin, Paul, dan Margareth.

Kemudian pada 18 Februari 1546, Martin Luther wafat di Eisleben, Kekaisaran Suci Romawi.

  1. II.    Latar-belakang Munculnya Pemikiran Luther tentang Gereja dan Negara

Yang mempengaruhi munculnya pemikiran Luther tentang Gereja dan Negara adalah tidak terlepas dari situasi GKR pada abad pertengahan di Eropa Barat. H. Berkhof mencatat bahwa sejak abad ke-V gereja telah diduniawikan. Artinya bahwa gereja adalah di bawah perlindungan kaisar. Kaisar berperan sebagai kepala gereja. Dengan demikian Gereja-Negara disusun selaku badan hukum yang berpusatkan istana kaisar.[2] Uskup Roma juga menyebutkan dirinya sebagai wakil Kristus yang memiliki dua kekuasaan, yaitu kuasa untuk menganugerahkan dan kuasa untuk mengalihkan kerajaan-kerajaan. Artinya semua uskup di seluruh dunia harus meminta penahbisan dan pengukuhan darinya. Selain daripada itu, ia memiliki hak untuk membuat peraturan-peraturan ibadah, perubahan dalam sakramen, dan ajaran-ajaran dalam gereja.[3] Situasi inipun terus berlanjut dari abad ke abad. Mangisi dalam bukunya, ia mencatat bahwa pada abad 11 sampai 13 perseteruan antara Paus dengan Kaisar adalah salah satu unsur penting karena gereja belum bersedia melepaskan diri dari urusan duniawi. Gereja telah memasuki kuasa politis. Oleh sebab itu, gereja telah menjadi kuda troya yang membawa penyakit dalam dirinya sehingga menyebabkan para raja makin gigih mempertahankan haknya, yang merupakan tenaga pendorong untuk merutuhkan landasan hubungan gereja-negara pada abad pertengahan.[4] Selain daripada itu juga munculnya pemikir-pemikir mistik yang berusaha “agar jiwa mengalami dan merasai Allah secara langsung”. Tokoh utama yang mencetuskan pemikiran-pemikiran ini adalah Benhard dan Eckhart.[5]

Pada abad ke 14-15, penguasa-penguasa Gereja semakin menonjol sampai kepada bidang yang tradisional dikuasai oleh gereja, seperti: Kebudayaan, Ilmu Pengetahuan, Pendidikan bahkan Teologi.[6] Sehingga dapat dikatakankan bahwa pada abad ke-15 inilah terjadinya reformasi. Artinya pemikir-pemikir yang sudah tahu tentang kehidupan GKR yang semakin memburuk berusaha melakukan reformasi oleh pemikir gereja yang sudah belajar tentang teologia yang cukup baik seperti Martin Luther.

Di Jermanlah yang menjadi tempat lahirnya reformasi yang terletak di tengah Eropa. Di Negara Jermanlah raja-raja atau pangeran berkuasa penuh atas daerahnya masing-masing.[7] Banyak raja mulai mengatur urusan negerinya sendiri, wilayahnya masing-masing dan tidak mengakui klaim supremasi gereja atau Paus atas Negara,[8]dan  bangkitnya kelas pedagang dan pengusaha di bidang perdagangan juga industri yang menjadi jikal bakal kapitalisme. Hal inilah yang menggeser dominasi feodalisme yang sudah berlangsung berabad-abad yang di dalamnya gereja juga terlibat. Karena gereja sejak lama berperan sebagai soko guru sistem feodalisme, maka tidak heran bila gereja (GKR) juga menjadi sasaran sikap kritis tersebut.[9] Para Imam tidak menjadi teladan bagi masyarakat, tetapi yang terjadi adalah mencari keuntungan diri sendiri. Di satu pihak pemikiran-pemikiran mistik abad pertengahan muncul kembali di dalam Thomas Muncher. Muncher menegaskan bahwa “kemiskinan” itu terutama kemiskinan akan harta benda, kemelaratan. Lalu ia menyimpulkan hanya orang-orang miskinlah yang dapat menerima roh, terang batiniah itu (menurut Matius 5:3). Sebaliknya orang kaya justru karena kaya mereka menjadi orang-orang fasik. Sehingga pada tahun 1525 terjadi pemberontakan para petani[10] kepada kaum penguasa. Mulanya Luther menyalahkan para penguasa ini, tetapi ketika pemberontakan itu berubah menjadi pertumpahan darah, dia juga menyarang para petani.[11] Alasan mereka melakukan pemberontakkan ini adalah kutipan-kutipan Luther yang berbicara tentang “kebebasan”. Mereka menafsirkan kebebasan itu sebagai kebebasan dari kewajiban-kewajiban yang tidak wajar kepada tuan-tuannya. Akan tetapi maksud Luther tentang “kebebasan seorang Kristen” itu adalah kebebasan dan tuntutan hokum taurat bukan berarti bebas dari kerja rodi dan sebagainya.[12] Akibat peristiwa ini, Luther tidak percaya lagi bahwa rakyat sendiri bisa menjalankan pemerintahan yang teratur dalam Negara. Melalui peristiwa ini, Luther menyetujui sistem yang telah digunakan oleh raja Sachsen yang mengatakan bahwa: pemerintah membagi daerah atas distrik-distrik, dan setiap distrik mengangkat seorang pejabat yang diberi gelar “superintendent”.[13] Melalui peristiwa ini Luther mencanangkan protes terhadap ajaran dan praktik gereja.[14]

Selain dari kelompok kaum mistik muncul juga kaum Anabaptis yang menegaskan bahwa jemaat Kristen hanya boleh terdiri dari orang-orang percaya saja. Oleh karena itu, mereka menolak pembaptisan anak-anak. Dasar gereja menurut mereka adalah kesucian anggota-anggotanya bukan rahmat Allah atas orang-orang berdosa. Hal inilah yang ditentang oleh Luther yang mengatakan bahwa dasar gereja bukanlah kesucian anggota-anggotanya melainkan rahmat Allah dan pemberitaan firman dan sakramen-sakramen.[15]

 

  1. III.    Pandangan Martin Luther tentang hakikat Gereja dan Negara

II.1. Pandangan Martin Luther tentang Hakikat Gereja

Hakikat Gereja menurut Luther adalah perefleksian penekanan atas firman Allah. Firman Allah berjalan terus untuk menaklukan dan kemanapun ia akan menaklukan dan mendapat kesetiaan yang benar kepada Allah dan gereja. Injil adalah sesuatu yang esensial bagi identitas gereja, “di mana firman itu ada di sana ada iman, dan di mana ada iman dan di sana ada gereja yang benar”. Luther juga mengatakan bahwa gereja yang kelihatan dibentuk oleh pemberitaan firman Allah. Lembaga gereja ini merupakan alat anugerah yang ditentukan secara ilahi. Di samping itu juga, Luther mengatakan bahwa “gereja yang palsu hanya mempunyai rupa yang kelihatan saja, meskipun ia memiliki jabatan-jabatan Kristen”. Dengan kata lain, gereja abad pertengahan telah menyerupai gereja yang sebenarnya tetapi dia benar-benar sesuatu yang berbeda.[16]

Luther menerima pandangan Augustinus tentang gereja sebagai suatu badan “campuran”. Artinya gereja harus dilihat sebagai gereja yang keanggotaannya bercampur baik orang-orang kudus maupun orang-orang berdosa.[17]

II.2. Pandangan Martin Luther tentang Negara

Luther memandang Negara sebagai sesuatu yang berasal dari Allah. Konsekuensinya adalah bahwa seluruh dunia dan manusia harus tunduk kepada Allah. Dengan demikian maka kesetiaaan manusia kepada penguasa menjadi tanpa syarat. Luther melihat kesetiaan warga Negara kepada pimpinannya sebagai hal yang rohani dalam kerangka hubungan manusia dengan Allah.[18]

Dalam katekismus besar Luther, juga disebutkan bahwa kuasa itu berasal dari Allah. Luther meneruskan penjelasannya yang mengatakan bahwa pemerintah tercakup di dalam kedudukan orang tua. Artinya ketaatan kepada penguasa adalah ketaatan kepada seorang bapak, sebab pejabat bukan hanya bapak dari satu keluarga melainkan bapak dari rakyat. Para penguasa bagaikan orang tua[19] dan penguasa itu meneladani Kristus. Artinya ialah bahwa seorang penguasa harus mengosongkan dirinya seperti Kristus. Ia tidak mengeksploitasi kekuasaan demi kepentingannya, melainkan demi kepentingan orang lain.[20]Negara tidak boleh merebut hak-hak Allah. Allahlah yang memerintah jiwa-jiwa bukan Negara. Luther mempertegas bahwa tugas tanggung jawab pemerintah atau penguasa adalah mempraktekkan keadilan, mengizinkan kebebasan bagi setiap orang dalam melaksanakan kepercayaannya, membela Negara dari semua musuh-musuhnya, dan memuliakan Tuhan.

  1. IV.    Hubungan Gereja dan Negara menurut Martin Luther

Dalam menjelaskan hubungan antara gereja dan Negara, luther menggunakan teori atau ajaran tentang “dua kerajaan”[21]atau “dua pemerintahan”. Luther menarik suatu perbedaan antara pemerintahan “spiritual” yang berasal dari Allah yang diberlakukan melalui firman Allah dan tuntunan roh kudus, dan pemerintahan “duniawi” Allah diberlakukan melalui raja-raja, pengeran-pangeran dan hakim-hakim dengan mempergunakan pedang dan hukum Negara. Luther juga menekankan perbedaan antara konsepsi manusia dan konsepsi Ilahi tentang “kebenaran” atau “keadilan”, suatu tema yang merupakan karakteristik dari “teologi salib”. Ukuran Allah tentang keadilan mempersoalkan semua perkara di dunia ini. Luther mengatakan bahwa keteraturan akan dikenakan untuk menciptakan kedamaian dan untuk menekan dosa dan semua ini didasarkan atas firman Allah dan merefleksikan kehendak Ilahi untuk membangun dan memelihara bidang duniawi.[22] Atau dengan kata lain, Allah memberi kepada gereja kuasa untuk mengurusi kehidupan rohani dari umat yang sudah berada dalam lingkungan kerajaan Allah, sedangkan kepada Negara Allah memberikan kuasa mengurusi kehidupan duniawi untuk menertipkan orang-orang jahat, sekaligus menolong gereja mengupayakan orang-orang yang belum Kristen itu bisa masuk ke dalam naungan kerajaan Allah. Karena para raja dan bangsawan itu adalah warga gereja, maka sejalan dengan semboyan “Imamat  Am Orang Percaya” bahwa mereka juga terpanggil untuk membaharui gereja dan mengambil bagian dalam pelayanan gereja terutama dalam memberantas kejahatan dan mengupayakan perikehidupan yang kristiani. Dengan alasan itu pula maka Luther setuju bila orang Kristen duduk dalam pemerintahan. Ia menerima pandangan Augustinus yang mengatakan bahwa pemerintahan Kristen harus memerintah dengan akal, kasih dan kehendak baik.[23] Pemerintah atau pangeran-pangeran itu harus tetap melaksanakan tugas ilahi (Luther mengacu pada Roma 13:1-7, I Petrus 2:13-14)[24]

Pada mulanya Luther berpendapat bahwa secara kelembagaan Negara tidak boleh mengurusi kehidupan gereja. Tetapi ketika ia melihat bahwa ada kelompok tertentu atas nama imam melakukan pemberontakkan dan huru-hara yang juga mengakibatkan kerugian kepada gereja, antara lain pemberontakkan kaum petani tahun 1525 yang dinilai Luther sudah mengarah pada anarkhi, maka Luther memberi peluang kepada negara untuk ikut mengatur kehidupan gereja. Dalam perkembangan selanjutnya campur tangan Negara terhadap gereja semakin besar. Itu tak lepas dari dukungan raja-raja tertentu di Jerman terhadap Luther ketika membela di hadapan tuntutan GKR. Itulah sebabnya di Negara-negara yang didominasi aliran Lutheran (mis. Jerman dan Negara-negara Skandinafia) gereja pada umumnya menjadi gereja Negara, paling tidak hingga pada abad ke XIX.[25]

BAB III

PENUTUP

  1. I.    Analisa

Gereja dan Negara menurut Martin Luther harus dipisahkan meskipun sebenarnya bersinggungan. Pemisahan itu, Luther menggunakan ajaran tentang “dua kerajaan” atau “dua pemerintahan”. Namun dikatakan bersinggungan karena sama-sama melakukan pekerjaan yang diamanatkan Tuhan demi memanusiakan manusia. Gereja sebagai bagian dari warga Negara RI dan makhluk social, yang tidak menutup kerjasama dengan Pemerintah dalam membangun manusia seutuhnya.

Lalu yang menjadi pertanyaan sekarang adalah adakah ajaran “Dua Kerajaan Luther” hadir di Negara Republik Indonesia saat ini? secara ringkas dapat disebut ada jika pendekatannya dari sudut pemisahan kekuasaan sebagai unsur penting. Namun dikatakan tidak ada, jika kita melihat keadaan gereja mencampuri urusan Negara, bahkan lebih memfokuskan pada bagian politik lalu mengabaikan pelayanan, dan penggembaan. Akan tetapi jika kita menganalisa secara umum di Negara kita ini bahwa mayoritas masyarakat tidak mengenal ajaran tersebut di sebabkan oleh beberapa faktor, misalnya para Pendeta kurang mendalami ajaran Luther ini sehingga sulit menerapkannya dalam kehidupan jemaat. Kesulitan mereka yaitu, tidak mengetahui bahwa kedua kerajaan itu berasal dari Allah. Banyak para penguasa tidak memerintah sesuai kehendak Allah tetapi yang terjadi adalah menindas rakyat oleh kekorupsian mereka.  Demikian pula dengan para Hamba Tuhan yang tidak mau melayani dengan tulus sehingga yang terpikirkan adalah kemakmuran.

Siapakah gereja dan Negara itu? Dalam konsep gereja rakyat, bukankah orang yang di dalam gereja itu adalah bagian dari masyarakat, dan itu juga yang menjalankan pemerintahan? Jawabnya, memang demikian, sebab orang Kristen hidup di dalam dunia, kakinya berdiri sebelah di kawasan gerejawi dan satu lagi di kawasan duniawi. Dalam masyarakat yang non Kristen prinsip itu bisa berlaku. Sebagaimana penjelasan di atas bahwa Luther melihat kedua kekuasaan itu sebagai dua lingkaran yang terpisah tetapi bersinggungan secara fleksibel pada bagian tertentu. Luther melihat kedua kekuasaan itu berpusat pada Kristus. Dengan demikian gereja dan dunia ini adalah milik Kristus.

Politik adalah salah satu bidang pelayanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sama pentingnya dengan bidang-bidang kehidupan lainnya. Menurut Luther dalam politik, pejabat pemerintah dan politisi jiga adalah imam yang mesti mempergunakan kemampuannya di bidang politik bagi kepentingan manusia dan Tuhan (istilah “imamat am orang percaya”). Prinsip Marthin Luther tentang pekerjaan menggaris bawahi bahwa setiap pekerjaan adalah mimbar Allah. Orang Kristen bisa menjadi serdadu tetapi bukan berperang untuk menyerang orang lain melainkan karena keadaan darurat atau terpaksa demi mempertahankan kepentingan orang lain. Setiap pekerjaan yang di embankan bagi tiap-tiap orang harus memiliki  tujuan dan berusaha supaya bermanfaat bagi orang lain.

  1. II.    Kesimpulan

Pada abad pertengahan fungsi gereja dan Negara telah tercampur baur. Gereja mengurusi kehidupan Negara demi memperoleh keuntungan sehingga pelayanan dan penggembaan diabaikan. Para penguasa pun tidak mengakui klaim supremasi gereja atau Paus atas Negara. Tetapi oleh anugerah Tuhan ia memperalatkan hambanya (Marthin Luther) untuk melakukan pembaharuan dalam kehidupan gereja dan Negara. Luther mengatakan bahwa hubungan Gereja dan Negara bukanlah suatu musuh dan bukan juga gereja yang berkuasa atas Negara, demikian sebaliknya. Tetapi Luther di sini memberikan pemahaman kepada gereja dan Negara bahwa gereja adalah mitra dari Negara dan juga Negara adalah mitra dari gereja tersebut. Jadi, dapat dikatakan bahwa tidak ada yang berkuasa, tetapi menurut Luther gereja tetap berada di bawah pemerintahan namun pemerintah tidak menjadi hakim di dalam gereja tersebut melainkan menjadi sahabat dalam menyelesaikan masalah dan juga gereja bukanlah yang mengatur Negara melainkan yang memberikan pemahaman tentang hal yang dikatakan firman Tuhan.

 

Daftar Pustaka

  1. Aritonang, Jan S., Berbagai Aliran di dalam di Sekitar Gereja, Jakarta: BPK-GM; 2000.
  2. Berkhof, H., Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM; 1996.
  3. De Jonge, Ch., Pembimbing ke dalam Sejarah Gereja, Jakarta: BPK-GM; 2004.
  4. Jan S. Aritonang, Garis Besar Sejarah Reformasi, Bandung: Jurnal Info Media; 2007.
  5. Luther, Marthin, Katekismus Besar, terj. Anwar Tjen, Jakarta: BPK-GM; 1996.
  6. Mangisi SE. Simorangkir, Ajaran Dua Kerajaan Luther, Pematangsiantar: kalportase pusat GKPI; 2008.
  7. McGrath, Alister E., Sejarah Pemikiran Reformasi, Jakarta: BPK-GM; 2002.
  8. Tappert, Theodore B., Konkord konfensi Gereja Lutheran, Jakarta: BPK-GM; 2004.

Van de End, Th., Harta dalam Bejana, Jakarta: BPK-GM, 2000.


[1] Bnd. Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan di Sekitar Gereja ,(Jakarta: BPK-GM;2000), hlm.. 31.

[2] H. Berkhof,Sejarah Gereja,(Jakarta:BPK-GM;1996), hlm. 50-51.

[3] Theodore B. Tappert, Konkord konfensi Gereja Lutheran, (Jakarta: BPK-GM;2004), hlm.414.

[4] Mangisi SE. Simorangkir, Ajaran Dua Kerajaan Luther,(Pematangsiantar: kalportase pusat GKPI;2008), hlm.26.

[5] Th. Van de End, Harta dalam Bejana, (Jakarta:BPK-GM,2000), hlm. 142.

[6] Ch de Jonge, Pembimbing ke dalam Sejarah Gereja, (Jakarta:BPK-GM;2004), hlm. 69.

[7] Mangisi SE. Simorangkir, Op.Cit., hlm.29.

[8] H. Berkhof, Op.Cit., hlm. 138.

[9] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di dalam di Sekitar Gereja,(Jakarta:BPK-GM;2000), hlm26.

[10] Th. Van de End, Op.Cit., hlm. 175.

[11] Mangisi SE. Simorangkir, Op.Cit., hlm. 32.

[12] Th. Van de End, Op.Cit., hlm. 175-176.

[13] Ibid, hlm.177.

[14] H. Berkhof, Op.Cit., hlm. 120.

[15] Th. Van de End, Op.Cit., hlm. 177-179.

[16] Alister E. McGrath,Sejarah Pemikiran Reformasi, (Jakarta:BPK-GM;2002),hlm.249-250.

[17] Ibid, hlm. 251.

[18] Mangisi SE. Simorangkir, Op.Cit., hlm.90.

[19] Marthin Luther, Katekismus Besar, terj. Anwar Tjen, (Jakarta:BPK-GM;1996), hlm. 63-65.

[20] Mangisi SE. Simorangkir, Op.Cit., hlm. 92-93.

[21]  Jan S. Aritonang, Garis Besar Sejarah Reformasi, (Bandung: Jurnal Info Media;2007), hlm. 127.

[22]Alister E. McGrath, Op.Cit., hlm. 270

[23] Mangisi SE. Simorangkir, Op.Cit., hlm. 91.

[24] Alister E. McGrath, Op.Cit.

[25] Jan S. Aritonang, Op.Cit.





Warna Busana Liturgis

27 12 2011

Norma-norma liturgis Gereja memang menetapkan warna-warna busana liturgis yang khusus untuk beragam perayaan. Penggunaan aneka warna dalam busana liturgis memiliki dua tujuan: Pertama, warna menegaskan masa liturgi tertentu dan perjalanan rohani umat beriman melewati masa-masa ini. Kedua, warna memberi makna masa liturgi dengan menegaskan suatu peristiwa tertentu atau suatu misteri iman tertentu. Penjelasan berikut disampaikan berdasarkan norma-norma Pedoman Umum Misale Romawi no 345-347.

 

PUTIH atau KUNING, warna-warna yang melambangkan sukacita dan kemurnian jiwa, dikenakan sepanjang Masa Natal dan Masa Paskah. Busana liturgis putih juga dikenakan pada perayaan-perayaan Tuhan Yesus (kecuali peringatan sengsara-Nya); begitu pula pada pesta Santa Perawan Maria, para malaikat, para kudus yang bukan martir, pada Hari Raya Semua Orang Kudus (1 November), Kelahiran St Yohanes Pembaptis (24 Juni), Pesta St Yohanes Pengarang Injil (27 Desember), Pesta Tahta St Petrus Rasul (22 Februari) dan Pesta Bertobatnya St Paulus Rasul (25 Januari). Putih juga dapat dikenakan pada Misa Pemakaman Kristiani dan Misa Arwah guna melambangkan kebangkitan Tuhan kita, ketika Ia menang atas dosa dan maut, kesusahan dan kegelapan.

 

MERAH memiliki makna ganda. Di satu pihak, merah melambangkan pencurahan darah; di lain pihak, merah juga melambangkan api kasih Allah yang bernyala-nyala. Karenanya, busana liturgis merah dikenakan pada hari Minggu Palma (ketika Kristus memasuki Yerusalem untuk menyongsong kematian-Nya), pada hari Jumat Agung, pada hari Minggu Pentakosta (ketika Roh Kudus turun atas para rasul dan lidah-lidah api hinggap di atas kepala mereka), dalam perayaan-perayaan Sengsara Tuhan, pada pesta para rasul dan pengarang Injil (terkecuali St Yohanes yang tidak mengalami kemartiran), dan pada perayaan-perayaan para martir.

 

HIJAU dikenakan sepanjang masa liturgi yang disebut Masa Biasa. Masa Biasa berfokus pada masa tiga tahun pewartaan Tuhan kita di depan publik, dan ayat-ayat Injil, teristimewa pada hari-hari Minggu, mengisahkan ajaran-ajaran, mukjizat-mukjizat, pengusiran setan dan perbuatan-perbuatan baik lain yang dilakukan-Nya selama masa itu. Segala pengajaran dan peristiwa ini mendatangkan pengharapan besar dalam misteri keselamatan. Kita berfokus pada hidup-Nya yang Ia bagi bersama umat manusia semasa hidup-Nya di dunia ini, hidup yang sekarang kita bagi bersama-Nya dalam komunitas Gereja dan melalui sakramen-sakramen-Nya, dan kita menanti dengan rindu berbagi hidup abadi bersama-Nya dalam kesempurnaan di surga. Hijau melambangkan pengharapan dan hidup ini, sama seperti tunas-tunas hijau yang menyembul di antara pepohonan yang tandus di awal musim semi membangkitkan pengharapan akan hidup baru.

 

UNGU dikenakan selama Masa Adven dan Masa Prapaskah sebagai tanda pertobatan, kurban dan persiapan. Di pertengahan dari masing-masing masa ini: pada hari Minggu Gaudete (Minggu Adven III) dan hari Minggu Laetare (Minggu Prapaskah IV) – busana liturgis berwarna JINGGA biasa dikenakan sebagai tanda sukacita. Kita bersukacita di pertengahan masa ini karena kita telah melewati separuh persiapan kita dan sekarang mengantisipasi kedatangan sukacita Natal atau Paskah. Beberapa ahli liturgi, khususnya di Gereja Episcopal, memperkenalkan busana liturgis berwarna biru sepanjang Masa Adven guna membedakannya dari Masa Prapaskah; namun demikian, tidak ada persetujuan yang diberikan oleh Gereja Katolik untuk busana liturgis berwarna biru ini. Ungu dapat juga dikenakan pada Misa Pemakaman Kristiani atau Misa Arwah.

 

Walau sekarang jarang sekali dipergunakan, busana liturgis berwarna HITAM dapat dikenakan pada Misa Pemakaman Kristiani sebagai tanda maut dan duka. Hitam dapat juga dikenakan pada Peringatan Arwah Semua Orang Beriman atau Misa Arwah, misalnya pada hari peringatan kematian orang yang kita kasihi.

 

Pada dasarnya, keanekaragaman warna busana liturgis berupaya membangkitkan kesadaran kita akan masa-masa kudus; suatu upaya lahiriah lain untuk menghadirkan misteri-misteri kudus yang kita rayakan.





Komunitas Sadrach Dan Akar Kontekstualnya

27 12 2011

Sadrach adalah nama dari seorang pribumi berstrata  sosial bawah di Jawa Tengah, dari desa Karangjasa di bagian Selatan Bagelen. Nama lengkapnya ialah Sadrach Surapranata. Nama Sadrach merupakan sebuah nama baru yang ia pakai setelah ia dibaptis oleh Rev. Ader, pendeta dari Indische Kerk, pada tanggal 14 April 1867. Nama Sadrach sebelumnya ialah Radin Abis. Sebelum ia menjadi seorang Kristen, ia adalah seorang anak muda yang belajar tentang Al-Qura’an. Dan setelah ia lulus dari sana, maka ia menjadi pemuda Jawa seutuhnya, ia tidak langsung melanjutkan pendidikannya di Pesantren, tetapi lebih dahulu ia belajar “ngelmu” di bawah bimbingan guru ngelmu Jawa bernama Sis Kanoman di Semarang. Dan setelah ia berumur 17 tahun, ia pergi ke Jawa Timur, dan di sana ia belajar di berbagai Pesantren. Sesudah ia lulus dari pesantren ia kembali ke Semarang. Dan tinggal di Kauman. Namun, sekembalinya ke sana ia bertemu dengan dengan Sis Kanoman yang tidak lagi berstatus sebagai guru ngelmu Jawa, karena sudah bertobat menjadi seorang kristen akibat kekalahannya sewaktu melakukan perdebatan umum dengan penginjil Jawa bernama Tulung Wulung. Dari pertemuan Radin dengan mantan guru ngelmunya tersebutlah Radin pergi ke Batavia pada tahun 1866 bersama dengan Tunggul wulung untuk bertemu dengan F.L. Anthing[1]. Dan di sinilah awal mulanya Radin menjadi seorang Kristen dengan nama Sadrach.

Setelah semuanya ini, maka Sadrach memulai pekerjaannya. Dan sebagai hasil kerjanya yang pertama ia berhasil menobatkan Kiai Ibrahim melalui perdebatan umum. Setelah itu, Ibrahim menjadi teman setia Sadrach dalam pekerjaan PI. Orang kedua adalah Kiai Kasanmetaram dan dan diikuti sejumlah orang lainnya seperti Kiai Karyadikrama dan Kiai Wiradikrama, kedua bersaudara pencari kebenaran dan juga mistik. Kiai-kiai ini diajarkan sendiri oleh Sadrach. Dan dari hal inilah Sadrach perlahan-lahan menjadi guru ngelmu baru yang berpengaruh dan dihormati di Karangjasa dan sekitarnya. Sehingga dalam setahun jumlah yang bertobat mendekati seratus orang. Sehingga pada tahun 1871 gedung gereja pertama didirikan di Karangjasa. Sehingga karangjasa menjadi tempat berkumpulnya orang-orang Kristen.

Sadrach adalah pelopor penginjilan di Jawa yang menjadi pemimpin kharismatis orang-orang Jawa di seluruh Jawa Tengah. Namun, bagi pemerintah lokal Kolonial Belanda menaganggapnya sebagai seorang pemberontak yang mengancam kestabilan dan ketentraman dan ketertiban umum. Sedangkan bagi misionaris Belanda yang tidak mengetahui latar belakang pemikiran Sadrach pada umumnya menganggap kekuasaan Sadrach dan kepemimpinannya sudah melampaui batas-batas kekristenan yang benar dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Calvinisme. Mereka menuduhnya sebagai pemimpin orang Jawa sesat karena ia menyatakan dirinya ratu adil dan menganggap ajarannya sebagai campuran antara pemikiran Kristen dan bukan Kristen. Jemaatnya dianggap sebagai orang-orang Kristen palsu atau jemaat Islam yang berpakain Kristen. Sehingga F. Lion Cachet mengganti Karangjasa, yang berarti “batu karang yang teguh berdiri” menjadi Karangdosa, yang berarti “batu karang dosa”. Mengapa hal ini bisa terjadi? Perlu diketahui bahwa Jemaat Sadrach merupakan jemaat yang unik, sebab jemaat ini muncul bukan dari pelayanan misi  Indische Kerk atau dari salah satu organisasi PI yang bertugas di Jawa Tengah pada paruhan abad ke XIX, melainkan sebagai hasil karya para penginjil pribumi Jawa yang menghasilkan jemaat dari budaya Jawa. Sehingga munculah suatu Jemaat pribumi berpenampilan Jawa, di mana jemaat ini bermula dari sebuah “house Church” yang memiliki kebaktian bersifat informal. Karena alasan inilah  para PI menaruh kecurigaan pada jemaat tersebut. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Hal ini tidak terlepas dari fondasi dasar yang telah diletakkan oleh para penginjil pribumi, secara khusus Sadrach yang berasal dari suku pribumi Jawa. Dalam pekerjaannya sebagai pengabar Injil, ia selalu menghargai kebudayaan, sehingga ia tidak pernah lepas dari budaya dan tradisi Jawa. Dan menurutnya, pertobatan berarti pembebasan yang meliputi kebebasan untuk menghargai dan mempertahankan budaya serta tradisi Jawa. Sehingga kebaktian dan sistem ritualnya terikat dengan tradisi Jawa. Hal ini dapat dilihat dari praktik yang dilakukannya, di mana gereja yang dibangun serupa dengan Mesjid, selain lonceng mereka masih menggunakan bedung seperti yang digunakan di Mesjid sebagai panggilan untuk beribadah. Dan dalam hal busana, jemaat masih menggunakan busana Jawa dan tidak mengenakan busana para penginjil dari Eropa. Serta pada saat pelaksanaan ibadah mereka mengikuti tradisi Islam, di mana tempat duduk laki-laki di dalam gereja dipisahkan dari tempat duduk perempuan. Perempuan menggunakan kerudung. Selain daripada itu, mereka masih menggunakan istilah-istilah Islam, misalnya nama gereja disebut Mesjid, sedangkan bagi para pemimpin jemaat menggunakan nama imam. Dari peristiwa ini, maka Uhlenbusch menamakannya sebagai “Kristen islam” dan Bakker menyebut mereka sebagai “agama Islam dalam kemasan Kristen”. Selain daripada itu, jemaat Sadrach ini menggunakan struktur gereja episkopal. Meskipun pada awalnya Sadrach tidak menaruh perhatiannya pada aspek kelembagaan jemaat. Namun, perhatiannya yang utama adalah tertuju pada penyebaran ngelmu baru, karena ia berlatar belakang guru ngelmu dan Kiai. Sehingga jemaat lebih bersifat mistis, lebih menekankan spritualitas.

Meskipun demikian, usaha para anggota jemaat Sadrach untuk mengkristenkan adat dan tata cara Muslim Jawa mengesankan, karena adat kebiasaan Jawa sangat diperlukan dalam konteks kehidupan masyarakat desa, sehingga mereka melakukan percobaan yang menakjubkan untuk tetap mempertahankan warisan leluhur tanpa menghindari iman baru mereka.

Sehubungan dengan itu, menurut pembaca dari buku “Kaum Sadrach dan akar kontekstualnya”, bahwa tindakan yang dilakukan oleh Sadrach dan para pengikutnya merupakan suatu hal yang baik, meskipun masih ada kelemahan dalam praktek-praktek mereka. Mengapa? Karena Sadrach dan para pengikutnya mencoba untuk menyampaikan injil lewat kaca mata budaya setempat, sehingga jemaat yang menerima injil mudah memahami injil yang disampaikan, karena injil tersebut berjalan dengan menggunakan media kebudayaan setempat.


[1] F.L. Anthing adalah seorang sarjana dan praktisi hukum yang telah menjadi penginjil dan tinggal di Semarang, Jawa Tengah. Ia adalah seorang tokoh yang meyakini bahwa pendekatan yang paling menjanjikan untuk pewartaan injil di Jawa ialah melalui orang-orang Kristen Jawa “inlander moet worden gewonnen door deinlander”.